Selamat malam kamu yang hadirnya selalu kurindukan. Meski kamu hadir memberiku luka, aku selalu menerimanya sebagai kebahagian. Kamu tahu? betapa aku menganggapmu tak biasa saja, meskipun kamu selalu mencoba menganggapku biasa saja atau mungkin kamu memang menganggapku begitu. Aku tak mempermasalahkannya, kok.
Kita memang tak jauh dalam jarak, tapi kita begitu jauh dalam komunikasi. Mengapa aku selalu kehilangan keberanian untuk mmenciptakan perbincangan denganmu atau hanya sekedar menyapa. Salahkan saja aku. Bukan kamu. Aku terlalu takut untuk berbicara denganmu. Aku yang membuatmu menganggapku bahwa aku menganggapmu biasa saja.
Aku hanya ingin sebuah kejelasan. Seseorang pasti pernah atau akan bertemu dengan sesuatu yang disebut kejenuhan. Kamu tahu itu, aku pasti akan merasakannya. Dan aku tahu kamu pun juga begitu. Itulah hal yang kutakutkan. Kamu bisa saja dengan mudah meyakinkanku bahwa kamu benar-benar telah pergi dariku dengan bersama sosok baru yang mungkin kukenal. Tapi, aku tak pernah sesekalipun mencoba menggenggam sosok baru yang kutahu lebih baik darimu dalam hal apapun. Aku selalu mengingatmu.
Aku memang hampir saja menggenggam sosok baru itu, tapi sebenarnya aku tak pernah mencoba melakukannya. Menggenggam berarti aku menerimanya. Menggenggamnya berarti aku melepasmu dari genggamanku. Aku selalu mengingatmu.
Aku memperjuangkanmu dalam doa. Tak seperti kamu yang katanya telah berbuat banyak hal untuk memperjuangkanku. Jangan anggap aku mengabaikanmu, aku juga tak pernah menganggapmu mengabaikanku. Dan sekali lagi, aku butuh kejelasan. Bila memang kamu ingin mengakhiri perasaan ini, katakanlah. Aku siap menerima.
Selamat malam kamu yang telah kutuliskan dalam sebuah puisiku malam ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar