Pagi itu hujan begitu deras mengguyur
kotaku. Membasahi hari pengambilan raport semester 2. Sekolah begitu ramai
siswa-siswi dan walinya. Namun aku merasa seperti sendirian, semua orang
bergurau tak menyentuh hadirku sama sekali. Aku pun memilih diam, menunggu waktuku tiba.
Mataku was-was akan sosok yang hidup di
dalam benakku. Dia sedang berjalan dengan cemas namun penuh harap. Keringatnya mengucur
deras. Aku tahu yang dia harapkan sama seperti apa yang kuharapkan untuknya.
Sosok itu pun melewatiku begitu cepat dan mataku hanya melirik sejenak.
Tibalah saatku, membuka hasil jerih
payahku dan kudapatkan hasil yang memuaskan. “Terima kasih Tuhan.” Aku
tersenyum, mencoba meyakinkan hati bahwa hasil yang memuaskan ini bisa
mengobati lukaku. Aku bahkan tak tahu apakah aku benar-benar tersenyum atau
hanya sekadar mengikuti alur, entahlah.
Kembali lagi, aku duduk di atas kursi
kayu. Kini sosoknya datang lagi. Aku tak tak tahu harus bersikap bagaimana. Apa
yang dia harapkan ternyata tak sejalan dengan kenyatan hari ini. Aku hanya
memandangnya dari jauh dan tersenyum menguatkan. Namun aku terabaikan.
Di mana aku saat
ia terjatuh, menangis, terluka?
Aku ada di hatinya. Aku
mengirimkan doa untuknya agar Tuhan selalu memeluknya, bersamanya.
Di mana aku saat dia sakit?
Aku memang belum pernah di
sampingnya. Namun aku selalu di hatinya. Aku selalu berdoa untuknya.
Di mana aku saat ia membutuhkan
pundak?
Aku ada di hidupnya. Meski
ragaku jauh, Tuhan selalu mendekatkan kami dengan doa.
Di mana aku saat dia bersedih?
Aku selalu di sini. Diam.
Memandang dari jauh. Berharap berada di sisinya. Namun aku selalu berdoa
untuknya.
Pertanyaan-pertanyaan
menyerbu perasaanku. Dan ia menghilang dari pandanganku, entah ke mana. Lalu
kuberikan raportku pada ibuku, dan aku menyendirikan sosokku sementara waktu.
[Bersambung]