Marissa adalah gadis kecil lugu yang
selalu menggendong tas kumuhnya ke sekolah meskipun banyak orang mencaci di
mukanya. Tak tanggung-tanggung, langkah mungilnya selalu tegas pergi ke arah yang
hendak ia tuju. Semungil-mungilnya langkah Marissa, ia mampu masuk dunia luar
yang mencolok mata hatinya, dan itu sangatlah
sakit.
Senja pun tiba di perkampungan yang
kini ia tak percaya bahwa tempat ia berpijak adalah sebuah perkampungan. “Jika perkampungan
di sini sebagus ini, lalu kampungku dulu itu di sebut apa?” pertanyaan yang
sampai sekarang belum terjawab dari seorang gadis mungil yang kini sudah
beranjak remaja.
Lambat laun, Marissa tumbuh besar
diikuti dengan masalah yang setiap waktu menggerogoti pikirannya. Hidup yang
tak layak bersama keluarganya hampir membuat harapannya satu demi satu
terkikis. “Jangan pernah berpikir bahwa seseorang bisa hidup enak hanya karena
tinggal di Ibu Kota sendiri.” Harapan tanpa usaha hanyalah omong kosong
orang-orang pemalas.
Masalah semakin menjadi-jadi.
Marissa hampir putus sekolah. Orang tua Marissa telah salah membanting tulang
mereka kepada pengusaha berdasi yang seenaknya sendiri memberi gaji, memotong
gaji, dan menentukan jadwal libur. Kesepakatan di awal seolah terberguna dalam
pelaksanaannya.
Namun, meskipun banyak anak
seusianya bahkan orang dewasa yang lupa akan suatu hal yang seharusnya selalu
mereka ingat, Marissa lebih baik dari mereka. Marissa selalu ingat “Sebesar
apapun masalah yang aku hadapi, Tuhanku lebih besar dari mereka. Tuhanku Maha
Besar.” Dan ia pun tersenyum...