Lembut
tapi melukai. Hangat tapi menggores. Peluh tak lagi jadi alasan. Terbayang di
dalam pikiran yang teramaikan oleh gersang, terpungutlah sajak yang dulu pernah
kubiarkan berlalu. Seperti berlaut ke suatu tempat yang bahkan hanya ada kala
itu saja di benak. Tak selalu sepaham ini ingin segera kuakhiri.
Setangkup
harapan tak abadi memaksaku berjalan lagi. Namun belati kian banyak saja
melukai. Gerogotan yang lain pun
menghabisi bagian bahagia itu. Bak berselimut pilu keras yang menghancurkan
secercah demi secercah sinar. Semua terbayang dengan mudah. Kan ku jumpakan ini
dengan pengakhiran. Kan aku raih kilauan dalam kegelapan saat mataku tertutup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar