Jumat, 03 Januari 2014

Halo masalah besar, aku punya Tuhan yang lebih besar dari kamu!

            Marissa adalah gadis kecil lugu yang selalu menggendong tas kumuhnya ke sekolah meskipun banyak orang mencaci di mukanya. Tak tanggung-tanggung, langkah mungilnya selalu tegas pergi ke arah yang hendak ia tuju. Semungil-mungilnya langkah Marissa, ia mampu masuk dunia luar yang mencolok mata hatinya, dan itu sangatlah  sakit.

            Senja pun tiba di perkampungan yang kini ia tak percaya bahwa tempat ia berpijak adalah sebuah perkampungan. “Jika perkampungan di sini sebagus ini, lalu kampungku dulu itu di sebut apa?” pertanyaan yang sampai sekarang belum terjawab dari seorang gadis mungil yang kini sudah beranjak remaja.

            Lambat laun, Marissa tumbuh besar diikuti dengan masalah yang setiap waktu menggerogoti pikirannya. Hidup yang tak layak bersama keluarganya hampir membuat harapannya satu demi satu terkikis. “Jangan pernah berpikir bahwa seseorang bisa hidup enak hanya karena tinggal di Ibu Kota sendiri.” Harapan tanpa usaha hanyalah omong kosong orang-orang pemalas.

            Masalah semakin menjadi-jadi. Marissa hampir putus sekolah. Orang tua Marissa telah salah membanting tulang mereka kepada pengusaha berdasi yang seenaknya sendiri memberi gaji, memotong gaji, dan menentukan jadwal libur. Kesepakatan di awal seolah terberguna dalam pelaksanaannya.


            Namun, meskipun banyak anak seusianya bahkan orang dewasa yang lupa akan suatu hal yang seharusnya selalu mereka ingat, Marissa lebih baik dari mereka. Marissa selalu ingat “Sebesar apapun masalah yang aku hadapi, Tuhanku lebih besar dari mereka. Tuhanku Maha Besar.” Dan ia pun tersenyum...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar