Aku
berdiri di depan teman-temanku. Seolah-olah memamerkan tubuhku yang begitu
memesona. Padahal sebenarnya, aku hanya ingin bersebelahan dengan dia. Setidaknya
aku bisa melihatnya. Hidupku terasa lebih indah bila ada dia. Sepanjang hari
aku memandanginya tanpa lelah. Tapi dia tak sedikitpun melihat ke arahku. Pandangannya
tajam lurus ke depan. Sesuatu yang membuatku semakin tertarik kepadanya.
Sebenarnya
aku ingin berbincang-bincang dengannya, tapi aku takut untuk memulai. Maka aku
bersedia menunggu hingga dia memulai perbincangan. Ternyata waktu tak
membiarkanku menunggu lama. Dia menoleh ke arahku, tersenyum, lalu menyapaku.
Deg. Apakah ini mimpi? Tentu saja aku senang bukan main. Dan sejak saat itu
kami mulai sering berbincang-bincang.
Hari
berganti hari. Aku tak ingin berpisah dengan dia. Dan aku berharap agar dia tak
meninggalkanku. Maka aku bergegas mundur dan berdiri di barisan paling belakang
dari teman-temanku. Aku juga meminta dia untuk melakukan hal yang sama sepertiku.
Tapi dia dan teman-temannya sama sekali tak membuat barisan. Mereka
berdesak-desakkan bahkan sampai tak bisa bergerak sedikitpun. Mungkin karena
yang mereka tempati begitu sempit. Dan itu membuatku semakin takut. Dia bisa
saja meninggalkanku. Seseorang bisa mengambilnya karena ia berada di depan dan
begitu tampan.

Hari-hari
berikutnya setelah aku berada di barisan paling belakang, aku dan dia tak lagi
saling berbincang. Dan benar saja, dia, bulpoin yang kucintai, pergi
meninggalkanku. Kucintai? Iya, aku mulai jatuh hati sejak mengenalnya. Tapi
kini seseorang telah membelinya. Dan aku benar-benar patah hati. Andai aku bisa
berbicara, aku pasti akan meminta seseorang itu agar tidak membelinya. Tapi
siapalah aku, aku hanyalah buku tulis keluaran terbaru yang sebentar lagi penuh
debu karena aku tahu bahwa pemilik toko tak rajin membersihkan barang
dagangannya. Dia keluar dari pintu dan dia benar-benar pergi.
Setelah
kepergiannya, aku kehilangan semangat. Ditambah lagi, satu persatu
teman-temanku juga pergi. Dan waktu itu pun datang, waktu di mana seseorang
membeliku. Aku bersikap seperti sewajarnya barang dangangan. Bila ada seseorang
yang membeli kami, kami merasa bahagia. Seseorang itu membawaku ke kamarnya.
Meletakkanku di atas sebuah kayu dan meninggalkanku di kamarnya yang full music.
Mungkin
aku akan dijadikannya buku tulis matematika atau fisika. Karena sepertinya tak
ada yang pantas untuk ditulis padaku selain pelajaran-pelajaran yang
memusingkan dan tidak menyenangkan itu. Pasti bulpoin yang digunakan untuk
menulis tidak sehitam bulpoin yang kucintai. Entah dari mana pikiran-pikiran
kotor itu datang, aku tak bisa mengendalikannya. Aku merindukannya.
Malam
yang dingin pun tiba. Seseorang itu lupa tak menutup jendela kamarnya. Aku
kedinginan di atas meja kayu. Sendiri tanpa bulpoin yang kuncitai. Lalu
seseorang itu datang dan mulai menulis di atas kertasku. Bukan sebagai buku
tulis matematika atau fisika, tapi sebuah buku harian. Dan yang tak kuduga
lagi, seseorang itu mempertemukanku kembali dengan bulpoin yang kucintai.
Cintaku pulang.
Aku
tersenyum bahagia. Pesonanya tak lagi kulihat dalam imajinasiku. Aku
benar-benar melihatnya langsung. Suatu momen yang tak akan terlupakan,
lembaranku akan penuh oleh tinta hitamnya. Penuh dengan tulisan indahnya. Tapi
sepertinya dia lupa padaku. Sebab dia sama sekali tak menoleh, tersenyum,
bahkan menyapaku. Seperti saat pertama kali aku melihatnya, pandangannya tajam
lurus ke depan. Itu membuatku sedih. Tapi setidaknya aku bisa melihatnya
kembali.
Setiap
hari seseorang itu menulis di atas kertas-kertasku dengan bulpoin yang
kuncintai. Selesai menulis, seseorang itu meninggalku berdua dengan bulpoin
yang kucintai itu di atas meja kayu dan membiarkan jendela kamarnya terbuka.
Udara malam begitu dingin, ingin rasanya kupeluk dia agar tidak kedinginan,
tapi aku tak bisa karena dia berada beberapa centimeter dariku. Untung saja
hujan tak turun.
Hari
berganti hari, tulisannya semakin membuatku
jatuh cinta. Dan selama itu aku dan dia sama sekali belum memulai percakapan
setelah percakapan kami di toko yang sudah lama berlalu. Seseorang itu pun datang
dan menulis lagi. Setelah selesai merangkai kalimat indah di atas
kertas-kertasku, ia pergi tidur meninggalkanku yang masih terbuka dan
meletakkan bulpoin yag kucintai di bawahku. Tak apalah, setidaknya dia aman di
bawahku, dia akan merasa hangat. Tapi hujan turun tiba-tiba. Semakin lama
semakin deras. Seseorang itu selalu saja lupa menutup jendelanya. Air hujan pun
tanpa ampun membasahi sedikit demi sedikit badanku. Tapi tak apalah, setidaknya
bulpoin yang kucintai tak basah. Dia aman.
Keesokan
harinya aku baru sadar, beberapa lembar kertasku robek karena air hujan
semalam. Tinta-tinta yang membentuk tulisan indah itu luntur. Aku kembali
sedih. Tapi tak apalah, bulpoin yag kucintai itu akan memberikanku tulisan
indahnya lagi. Aku harus bahagia karena dia kini sudah kembali di dekatku. Begitulah
aku menenangkan diriku sendiri.
Bulpoin
yang kucintai itu setiap hari menulis di kertasku. Dan setiap hari pula aku
menjaganya dengan cinta yang belum dia ketahui, bahkan mungkin tak akan pernah.
Karena setelah cukup lama aku bersamanya, lembaran kertasku yang kosong habis.
Dengan tintanya yang masih banyak, dia tak mungkin berhenti menulis. Jika aku
habis, maka pastilah dia akan menulis di kertas yang lain. Dan itu bukan dariku.
Setelah
menyadari bahwa lembaran kertas kosongku telah habis, seseorang itu
memasukkanku dalam kotak berdebu dan meletakkannya di atas lemari. Di situlah
aku menghabiskan sisa-sisa hidupku. Lagi, sendirian. Tidak, aku bersama
debu-debu dan kesepian. Tapi tetap saja, tanpa dia.
Hari
pun berganti dengan cepat. Hingga aku tak lagi nyaman dipandang. Aku terlalu
lama dilupakan. Seseorang itu terlalu lama lupa akan tulisan indah bulpoin yang
kucintai. Aku rindu akan pesonanya. Aku rindu bulpoin hitam yang menggoreskan
tintanya padaku hingga lembaranku habis. Aku merindukan waktu kami bersama.
Tapi aku semakin tua dan usang.
Aku
tak tahu sudah berapa lama aku di dalam kardus yang diletakkan di atas lemari.
Tiba-tiba ada sepasang tangan membawa kardus ini dan meletakkannya di suatu
tempat. Aku merasa asing dengan tempat itu. Bukan di atas lemari, tapi aku
yakin tempat apa ini. Tempat peristirahatan terakhirku sebelum akhirnya ada
yang membakar dan melupakan abuku. Ya, tempat pembuangan. Aku akan benar-benar
pergi meninggalkan bulpoin yang kucintai tanpa memberitahunya betapa aku begitu
mencintainya. Dia benar-benar tak akan pernah tahu. Setiap tulisannya membuatku
jatuh hati. Meski pandangannya yang tajam selalu lurus ke depan. Tapi aku
bahagia karena setiap lembaranku penuh dengan tulisan indahnya.
Di
tempat pembuangan ini, ternyata aku tak sendirian. Ada sebuah bulpoin tua yang
tintanya belum habis menatapku dengan tajam, tersenyum, dan menyapaku. Aku
bahkan seperti mengenalnya. Ya, dia bulpoin yang pernah mengukir kisah
bersamaku. Tapi mengapa ia berada di tempat ini?
Bulpoin
itu pun memulai perbincangan denganku seperti saat di toko. Ternyata setelah
lembaran kosongku habis dan aku di masukkan ke dalam kardus, dia berhenti
menulis. Berkali-kali seseorang itu mencoba menulis pada kertas lain, tapi
bulpoin yang kucintai tak membiarkan sedikitpun tintanya menyentuh lembaran
yang bukan aku. Hingga akhirnya seseorang itu membuang bulpoinnya ke tempat
pembuangan, sebelum aku. Bulpoin hitam itu menungguku di sana bersama kesepian
dan harapan-harapannya yang kini menjadi nyata. Kini kami menjadi pasangan yang
takkan terpisahkan kecuali oleh Yang Maha Esa. Kami, ya sebuah buku tulis dan
bulpoin hitam.
“Waktu
menguji cinta yang tercipta. Bukan memisahkan. Dan kesalingpercayaan ini menguatkan
kita, sehingga kita bertemu kembali dan menulis kisah yang baru di atas
lembaran putih bersih.”