Rabu, 23 Oktober 2013

Bisingnya Perasaanku

      Tak peduli dengan apa yang akan kutulis, jari-jariku serasa dengan lihainya menekan tombol-tombol yang ada di depanku ini. Tak peduli pula musik apa yang sedang kudengarkan, aku merasa nyaman. Berkali-kali kuhela napas dan kuhembuskan serentak dengan gertakkan kaki kananku ke lantai. Aku ingin menuangkan kesedihanku di sini, malam ini. Kesedihan yang aku tak tahu mengapa bisa menguasai perasaanku seutuhnya.
       Menyesal. Aku menyesali semua kesalahan yang telah kulakukan. Kali ini aku merana kesakitan. Aku menyimpan begitu banyak luka. Luka yang sebenarnya kusembunyikan. Katanya menangis bisa membuang luka, tapi bagiku justru malah menampakkan luka lebih jelas lagi. Mengapa banyak yang percaya.
      Kau tahu? Berandai-andai memang mengasyikkan. Andai saja waktu dapat terulang, aku pasti tak akan pula mengulang kesalahan yang telah kulakukan. Tapi, meski waktu bisa terulang pun, tak mungkin semua orang berlaku benar. Waktu? begitu lamanya aku menyia-nyiakannya. Sedihku apa bisa membuat waktu terulang? Tertawalah sepuas selagi bisa. Aku tak akan selamanya terpuruk dalam kerisauan meski begitu sering kesalahan kubuat. Meski semangatku sering luntur.
      Lagi-lagi semangat. Hal yang sebenarnya mudah didapat ini mengapa aku selalu merasa kurang. Mungkinkah karena aku salah? Mengapa sering kubuat kesalahan? Tapi aku pasti tak akan selalu begini. Jika membahas soal hidup, tak akan selesai ceritaku ini. Ceritaku yang mungkin hanya aku sendiri yang setelah selesai menbacanya berkata "Oh, gitu." tanda mengerti.
       Meski aku masih merasa sedih, rasa lelah dan mengantuk tak lagi bisa kutahan. Aku pun tak dapat memaksakan tubuhku untuk tak beristirahat. Bisingnya perasaanku malam ini. Seperti meraung-raung ingin merdeka padahal aku sendiri yang melakukan hal yang membuat perasaan itu tercipta, yang membuatku tak dapat menghapus niat untuk beristirahat.
      Lagi. Aku tak peduli apakah orang yang membaca ini selain aku akan mengerti atau tidak. Setidaknya malam ini aku memberikannya sebuah bacaan yang baginya mungkin bukan apa-apa. Hidup tak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan. Selamat malam.

Sabtu, 19 Oktober 2013

Hey


Kangen


Masih Terlarut dalam Sedih

     Selamat malam kamu yang selalu kurindukan hadirnya.

     Mengapa hari begitu cepat berlalu. Kau kudiamkan cukup lama rasanya. Aku bahkan tak yakin mengapa aku begitu. Padahal aku sangat merindukanmu, tapi aku masih saja sedingin es padamu. Hal yang membuatmu bingung hingga kini, bertanya-tanya pada bayanganku yang kian hari kian menjauh dan kemudian hilang. Aku tak tau mengapa kulakukan hal yang ku tahu ini menyakitkanku. Kadang aku berpikir bahwa inilah yang terbaik untuk saat ini. Namun, kenyataannya hal ini membuatku lemah dan jatuh sakit, masihkah menjadi yang terbaik? Lagi lagi aku kembali tak yakin.

  Banyak hal yang membuatku mempertimbangkan kedekatan kita. Hal-hal yang kutakut akan menghancurkan inginmu. Yang nantinya mungkin akan menyakitimu, membuatmu kecewa. Aku hanya tak ingin membuatmu menunggu lama. Lebih dari itu, aku tak ingin menyakitimu. Aku diambang kebingungan. Ketika aku tak sanggup lagi memendam rasa, rasa rindu yang ku pikir kau juga rasakan. Aku hanya bisa memandangimu dalam ingatanku. Sosokmu yang selalu kuharapkan hadir membuatku tak lelah memikirkanmu. Kau pun begitu. Tapi kau selalu hangat padaku yang sejak beberapa hari yang lalu bersikap dingin padamu. Aku tak bermaksud begitu. Bahkan meskipun aku terlarut dalam kesedihan, aku tak pernah lupa padamu. Maafkan aku yang membuatmu bingung, kuharap kau tak meragu.




Pitaloka                     

Selasa, 01 Oktober 2013

For you. Hehe.


Basketball quotes



Cintaku dikhianati

      Stella tak hanya menjadi ketua kelas namun juga menjadi kapten basket di sekolahnya. Ia menjadi terkenal dikalangan siswa-siswi di sekolahnya. Hingga suatu saat Stella menyadari bahwa ia telah jatuh hati dengan kapten basket putra. Setiap kali ada kesempatan, Stella selalu memerhatikannya. Di lapangan, di kelas, bahkan saat di luar sekolah. Stella sangat mengagumi pria itu. Ternyata, tanpa Stella ketahui, pria itu juga diam-diam memerhatikan Stella. Hingga suatu saat tatapan mereka saling beradu. Akhirnya, pria itu mengungkapkan perasaannya dan saat itu juga mereka mulai dekat.
         
    Waktu pun berjalan begitu cepat. Pria itu meminta Stella untuk menjadi kekasihnya dan Stella mengangguk tanda menerima. Hubungan mereka tak diketahui oleh orang lain, bahkan sahabat Stella sendiri, Nari. Nari adalah sahabat terbaik yang dimiliki oleh Stella. Stella tak ingin Nari bersedih. Apapun Stella lakukan demi Nari meskipun Nari kadang tak peduli padanya. Stella selalu menjadi sahabat terbaik Nari juga.

      Namun, suatu saat, Nari mengungkapkan isi hatinya kepada Stella. Hal yang membuat Stella tercengang tak percaya. Nari mencintai kekasih Stella. Nari sudah mengetahui bahwa Stella berpacaran dengan pria yang ia cintai sejak lama. Nari tak sanggup lagi berpura-pura menerima. Ia ingin pindah sekolah di luar kota agar tak berjumpa dengan Stella dan pria itu.

      Stella tak tahan melihat sahabatnya berlarut-larut dalam kesedihan. Stella juga tak mau jika Nari pergi meninggalkannya. Stella pun berniat memutuskan hubungan 'pacaran' dengan pria itu hingga Nari mau menerima kenyataan bahwa Stella dan pria itu saling mencintai.

"Lebih baik kita berteman dulu. Aku tak mau Nari terluka. Meskipun tak ada status pacaran, yang penting kita kan saling mencintai."

"Yaudah gapapa. Status itu gak penting. Yang penting kita udah punya komitmen dan harus kita jaga. Aku mencintai kamu, Stel."

"Aku juga mencintai kamu. Mulai sekarang kita harus bersikap seperti teman biasa saja ya di depan orang-orang."

      Pria itu mengangguk tanda setuju dan Stella pergi meninggalkannya begitu juga dia. Semakin jauh langkah yang diambil pria itu, semakin jauh pula ia menjauhi Stella. Tak ada kabar yang diterima Stella. Berkali-kali Stella mengirimkan sms dan bbm bahkan menelponnya, pria itu tak membalasnya. Di sekolah saja saat berpapasan, pria itu sama sekali tak membalas senyum dan sapaan Stella. Begitu juga Nari. Pria itu dan Nari begitu berbeda sepekan ini.

      Tak mau menunggu lama, kabar bahwa pria yang dicintai Stella, yang Stella relakan memutuskannya agar tak melukai sahabatnya kini justru menjalin hubungan istimewa dengan sahabatnya itu sendiri. Seperti tertusuk belati, Stella tak sanggup membendung air matanya. Cintanya telah dikhianati. 

      Sejak saat itu, Stella belum berpacaran lagi. Pria itu dan Nari begitu langgeng bahkan hingga Stella sudah kuliah. Stella sering berjumpa dengan mereka saat ada event-event basket. Stella sering melihat pria itu bermesraan. Parahnya lagi, Nari dan pria itu seolah-olah tak mempunyai salah dengan Stella. Stella hanya mampu tersenyum ikhlas, membalas sapaan mereka.

"Dulu aku melepaskanmu agar sahabatku tak terluka. Kini sahabatku mengambilmu meskipun ia tahu bahwa aku sangat terluka."





      

Kulihat Dia Tersenyum

      Hari ini aku berjumpa dengan sosok yang bulan Juli lalu pernah diam-diam kunantikan kehadirannya. Kini dia memang benar-benar berbeda. Tak seperti dia yang bulan Juli lalu kukenal. Seperti sosok lain yang menempati raga yang sama. Ya, dia memang tak seperti saat itu. Kini dia selalu menyimpan banyak cerita disetiap tatapannya. Aku merasakan banyak rahasia yang dia sembunyikan dariku. Banyak kalimat yang ia ingin ungkapkan padaku. Setiap kali aku melihatnya, kurasa banyak kebahagian palsu yang ia pertahankan. Senyum yang tak berarti kebahagiaan seutuhnya sering terpancar di wajahnya yang tampan.

      Dan seperti biasa, aku selalu mengalihkan pandanganku darinya. Melihatnya membuatku teringat akan kenangan-kenangan indah yang menjadi begitu pahit bila kuingat kembali. Parahnya lagi, kami sempat bersimpangan di pintu masuk sebuah rungan. Detik itu juga ia menyimpulkan senyum manis dan aku terpaku olehnya.

      Semua berlalu begitu cepat. Tapi dia masih berada dalam jangkauan mataku. Dia duduk sambil bermain handphonenya dan aku sedang dibuat kesal oleh temanku. Aku terjebak dalam ruangan yang sama dengannya. Meskipun ada banyak orang di ruangan itu, yang terlihat olehku hanya dia. Entah kenapa.

      Lagi-lagi dia melihat ke arahku. Namun kali ini tatapannya begitu dingin. Dia tersenyum manis kembali saat menatap layar handphonenya dan aku mengerti. Kulihat dia tersenyum lepas, tak ada beban, tak ada kepalsuan, senyum kelegaan. Senyum yang berarti "Setidaknya aku sudah memiliki seseorang".