Seperti
biasa, aku datang lebih awal dari pekerja-pekerja yang lain, dan juga dari
Bosku; Alice. Aku segera menuju ruang ganti dan mengganti pakaianku. Laki-laki
tampan berhidung mancung yang kuliah di unversitas ternama di negerinya ini
kini berubah menjadi seorang pelayan di sebuah restoran kecil di tengah Ibu
Kota.
Aku
pekerja paruh waktu. Aku bekerja hanya ketika tidak ada jadwal kuliah. Tapi
bagaimana aku bisa mendapatkan pekerjaan ini? Begini ceritanya.....
Suatu
hari di tahun ajaran baru, seorang pemuda tengah kebingungan mencari tempat
persinggahannya selama berada di Ibu Kota. Pakaiannya yang penuh keringat
dengan celana jeans hitam serta tas-tas besar yang dibawanya membuat ia
terlihat tak jauh berbeda dengan pemuda-pemudi yang berdatangan ke kota ini. Hampir
saja ia berputus asa karena tak ada satu pun rumah kos ia dapatkan.
Pemuda
itu pun berhenti sejenak untuk beristirahat. Duduk di sebelah wanita berparas
cantik yang sedang menyeduh minumannya. “Bolehkah aku bertanya, Nona?” pemuda
itu memberanikan diri untuk bertanya. Namun wanita itu hanya meliriknya
sebentar lalu melanjutkan menyeduh minumannya. “Apakah Nona tahu di mana ada
rumah kos yang masih memiliki kamar kosong?” Wanita itu tetap membisu. “Baiklah
jika Nona tidak menjawab pertanyaan saya. Sejujurnya saya baru tiba di kota ini
tadi pagi dan langsung mencari rumah kos yang mau menerima saya. Tapi hingga
petang ini saya belum menemukannya. Bahkan saya lupa untuk makan atau menyeduh
minuman hangat di malam yang dingin ini.” Ucap pemuda itu panjang lebar.
Wanita
itu berhenti menyeduh minumannya. Lalu ia menatap pemuda itu dengan matanya
yang indah. “Apa kau mau coklat panas? Apa kau suka coklat panas? Apa kau bisa
membuat coklat panas?” pertanyaan beruntun keluar dari bibir merah mudanya. “Apa?
Coklat panas? Hmmmm aku suka sekali dan aku bisa membuatnya. Lalu di mana rumah
kos yang bisa kusinggahi?” tanya pemuda itu penuh harap. “Maukah kau membuatkan
coklat panas untuk pelanggan-pelanggan restoranku?” wanita itu justru balik
bertanya. “Apakah dengan begitu aku mendapatkan sebuah kamar untuk tinggal?” pemuda
itu balik bertanya seperti wanita itu. “Coklat panas adalah minuman kesukaanku
dan pelanggan-pelanggan restoranku. Yang biasanya membuat coklat panas sudah
tidak bekerja lagi, jadi jika kamu mau bekerja menggantikannya akan kuberikan
sebuah kamar untukmu.” Pemuda itu menelan ludah. Berpikir sejenak. Tapi malam
begitu dingin, ia tak bisa menolak. Maka ia anggukkan kepalanya tanda setuju
dan mereka berlalu.
Hari
pun silih sberganti dan pemuda itu sudah mulai bekerja sebagai pembuat coklat
panas. Iya, pemuda itu adalah aku. Dan wanita itu adalah Alice, bosku yang juga
kekasihku. Semenjak pertemuan di malam itu dan perbincangan kami tentang coklat
panas serta rumah kos mengantarkan kami hingga sejauh ini dalam jalinan cinta.
Satu
persatu pekerja restoran tiba begitu juga Alice. Dan seperti biasa juga kami
saling menyapa dan berpandangan sambil tersenyum. Sesuatu yang membuat para
pekerja di sini merasa iri pada kami. Tapi begitulah hari-hari yang kulalui
saat tak ada jadwal kuliah bersama Alice dan coklat panasnya yang
menghangatkan.