Kamis, 31 Juli 2014

Hatiku Hilang Bersama Kepergianmu


Udara dingin dan kesepian menemaniku malam ini. Cerita sedihku terbalut rapi dengan kau di dalamnya. Malam lalu membiarkanku terpaku dalam lamunan. Namun sosokmu yang tak lagi ada membuatku sadar bahwa setiap orang mempunyai kesempatan untuk pergi. 

Maafkan aku yang merelakanmu begitu saja pergi. Karena itulah yang seharusnya kulakulan. Kau kembali kepada-Nya tanpa mengucapkan perpisahan padaku. Dan kau lepaskan genggamanku. Meski ku tahu bahwa pergi bukan yang kau pilih.

"Kini kita benar-benar tak lagi bersama. Dan bersama kepergianmu, hatiku hilang."

Seorang Pemuda, Alice, dan Coklat Panasnya


Seperti biasa, aku datang lebih awal dari pekerja-pekerja yang lain, dan juga dari Bosku; Alice. Aku segera menuju ruang ganti dan mengganti pakaianku. Laki-laki tampan berhidung mancung yang kuliah di unversitas ternama di negerinya ini kini berubah menjadi seorang pelayan di sebuah restoran kecil di tengah Ibu Kota.

Aku pekerja paruh waktu. Aku bekerja hanya ketika tidak ada jadwal kuliah. Tapi bagaimana aku bisa mendapatkan pekerjaan ini? Begini ceritanya.....
Suatu hari di tahun ajaran baru, seorang pemuda tengah kebingungan mencari tempat persinggahannya selama berada di Ibu Kota. Pakaiannya yang penuh keringat dengan celana jeans hitam serta tas-tas besar yang dibawanya membuat ia terlihat tak jauh berbeda dengan pemuda-pemudi yang berdatangan ke kota ini. Hampir saja ia berputus asa karena tak ada satu pun rumah kos ia dapatkan.

Pemuda itu pun berhenti sejenak untuk beristirahat. Duduk di sebelah wanita berparas cantik yang sedang menyeduh minumannya. “Bolehkah aku bertanya, Nona?” pemuda itu memberanikan diri untuk bertanya. Namun wanita itu hanya meliriknya sebentar lalu melanjutkan menyeduh minumannya. “Apakah Nona tahu di mana ada rumah kos yang masih memiliki kamar kosong?” Wanita itu tetap membisu. “Baiklah jika Nona tidak menjawab pertanyaan saya. Sejujurnya saya baru tiba di kota ini tadi pagi dan langsung mencari rumah kos yang mau menerima saya. Tapi hingga petang ini saya belum menemukannya. Bahkan saya lupa untuk makan atau menyeduh minuman hangat di malam yang dingin ini.” Ucap pemuda itu panjang lebar.

Wanita itu berhenti menyeduh minumannya. Lalu ia menatap pemuda itu dengan matanya yang indah. “Apa kau mau coklat panas? Apa kau suka coklat panas? Apa kau bisa membuat coklat panas?” pertanyaan beruntun keluar dari bibir merah mudanya. “Apa? Coklat panas? Hmmmm aku suka sekali dan aku bisa membuatnya. Lalu di mana rumah kos yang bisa kusinggahi?” tanya pemuda itu penuh harap. “Maukah kau membuatkan coklat panas untuk pelanggan-pelanggan restoranku?” wanita itu justru balik bertanya. “Apakah dengan begitu aku mendapatkan sebuah kamar untuk tinggal?” pemuda itu balik bertanya seperti wanita itu. “Coklat panas adalah minuman kesukaanku dan pelanggan-pelanggan restoranku. Yang biasanya membuat coklat panas sudah tidak bekerja lagi, jadi jika kamu mau bekerja menggantikannya akan kuberikan sebuah kamar untukmu.” Pemuda itu menelan ludah. Berpikir sejenak. Tapi malam begitu dingin, ia tak bisa menolak. Maka ia anggukkan kepalanya tanda setuju dan mereka berlalu. 

Hari pun silih sberganti dan pemuda itu sudah mulai bekerja sebagai pembuat coklat panas. Iya, pemuda itu adalah aku. Dan wanita itu adalah Alice, bosku yang juga kekasihku. Semenjak pertemuan di malam itu dan perbincangan kami tentang coklat panas serta rumah kos mengantarkan kami hingga sejauh ini dalam jalinan cinta.

Satu persatu pekerja restoran tiba begitu juga Alice. Dan seperti biasa juga kami saling menyapa dan berpandangan sambil tersenyum. Sesuatu yang membuat para pekerja di sini merasa iri pada kami. Tapi begitulah hari-hari yang kulalui saat tak ada jadwal kuliah bersama Alice dan coklat panasnya yang menghangatkan.