Tak ada
yang menarik perhatianku selain sepasang matanya yang indah. Setiap kali mata
kami berjumpa, tak ada kata yang berani menyapa. Mereka bersembunyi dan
membiarkan pertemuan kedua pasang mata ini berlalu. Lalu hatiku mulai bertanya,
itu mata milik siapa?
Mata
yang indah itu milik siapa? Masih saja hatiku bertanya padahal ia mengenalnya.
Tapi benarkah aku juga mengenalnya atau hanya hatiku saja? Ah, pentingkah itu?
Pertemuan mata ini selalu terngiang-ngiang dalam pikiranku. Mengapa banyak
pertanyaan yang harus kujawab sendiri?
Mata
yang indah itu dan mataku berjumpa lagi dan lagi. Mata kami saling berbicara
dalam bahasa yang tak kami mengerti. Seharian penuh, tidak, lebih, selama itu
mataku dan matanya yang indah asyik sendiri. Seperti membahas sesuatu, seperti
ada sesuatu di antara mata kami.
Aku
merasa nyaman dengannya. Mata yang indah itu selalu bersamaku. Mungkinkah dia
sudah menjadi milikku? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul mengikuti aku yang
mulai mengartikan kedekatan mataku dan matanya dengan sebutan “Cinta”. Entah
dari mana aku mengambil kata itu untuk mengartikan kedekatan mataku dan
matanya. Aku seperti pernah mengenal “Cinta”, tapi aku ragu.
Hari-hari
pun kami lalui bersama, bersama mata kami yang selalu tersipu malu dan tak banyak
bicara. Benarkah aku miliknya dan dia milikku? Jangan biarkan aku menjawab
sendiri. Jangan biarkan aku mengartikan sendiri. Tapi bersamanya adalah hal
terindah.