Pukul 23.23, aku yang haus akan
kenangan masa lalu mencoba membuka lagi ingatan-ingatan yang masih tertata rapi
dalam memori. Tapi mengenang saja pun tak cukup menghilangkan rasa hausku.
Mungkin sedikit kopi atau jus, eh maksudku mungkin membuka instagram atau media
sosial lainnya bisa memuaskan rasa ingin tahuku tentang keadaan masa laluku
sekarang bagaimana.
Awalnya, kupikir aku akan merasa
senang bisa melihat mereka lagi meskipun hanya dalam foto. Tapi, setiap kali
kulihat foto-foto yang mereka upload melalui instagram, kadang aku merasa bahwa
foto itu bicara padaku bahwa aku telah kehilangan bagian dari hidupku di masa
lalu yang kini hanya sanggup kukenang. Aku, untuk yang kesekian kalinya, membiarkan diriku terluka sendiri.
Sebenarnya terluka adalah sebuah
pilihan. Dan aku memilihnya sendiri. Entah aku musim hujan yang datang di bulan
April sampai Oktober atau musim kemarau yang datang di bulan Oktober sampai
Maret. Rasanya pilihanku untuk mengenang masa lalu adalah sebuah kesalahan. Aku
selalu saja kalah dalam mengenang. Tapi setidaknya aku sampai pada suatu
pemahaman, bahwa terluka telah menyadarkanku untuk lebih menghargai waktu.