Senin, 03 Oktober 2016

Kalah Dalam Mengenang

Pukul 23.23, aku yang haus akan kenangan masa lalu mencoba membuka lagi ingatan-ingatan yang masih tertata rapi dalam memori. Tapi mengenang saja pun tak cukup menghilangkan rasa hausku. Mungkin sedikit kopi atau jus, eh maksudku mungkin membuka instagram atau media sosial lainnya bisa memuaskan rasa ingin tahuku tentang keadaan masa laluku sekarang bagaimana.

Awalnya, kupikir aku akan merasa senang bisa melihat mereka lagi meskipun hanya dalam foto. Tapi, setiap kali kulihat foto-foto yang mereka upload melalui instagram, kadang aku merasa bahwa foto itu bicara padaku bahwa aku telah kehilangan bagian dari hidupku di masa lalu yang kini hanya sanggup kukenang. Aku, untuk yang kesekian kalinya, membiarkan diriku terluka sendiri.

Sebenarnya terluka adalah sebuah pilihan. Dan aku memilihnya sendiri. Entah aku musim hujan yang datang di bulan April sampai Oktober atau musim kemarau yang datang di bulan Oktober sampai Maret. Rasanya pilihanku untuk mengenang masa lalu adalah sebuah kesalahan. Aku selalu saja kalah dalam mengenang. Tapi setidaknya aku sampai pada suatu pemahaman, bahwa terluka telah menyadarkanku untuk lebih menghargai waktu.

Rabu, 28 September 2016

Sebuah Penantian

Aku duduk termangu
di antara kabut-kabut malam
 yang pandai bekukan hati
lalu mengawetkan sisa-sisa luka

Aku melihat diriku
di dalam kubangan air bekas hujan
yang menegaskan bahwa aku sendirian
lalu kubuat cerai-berai air dalam kubangan itu

aku kesal, ia benar

Aku membiarkan waktu berlalu begitu saja
sementara diriku terpenjara oleh rasa sakit
sebab aku berdiri sendirian dengan hati yang pernah kau lukai
atau aku yang membiarkannya terluka

Jarum jam berteriak keras tepat tengah malam
Membuatku tersadar
Aku sedang menanti
Tapi entah penantian seperti apa ini
Entah menanti siapa aku