Aku duduk termangu
di antara kabut-kabut malam
yang pandai bekukan
hati
lalu mengawetkan sisa-sisa luka
Aku melihat diriku
di dalam kubangan air bekas hujan
yang menegaskan bahwa aku sendirian
lalu kubuat cerai-berai air dalam kubangan itu
aku kesal, ia benar
Aku membiarkan waktu berlalu begitu saja
sementara diriku terpenjara oleh rasa sakit
sebab aku berdiri sendirian dengan hati yang pernah kau lukai
atau aku yang membiarkannya terluka
Jarum jam berteriak keras tepat tengah malam
Membuatku tersadar
Aku sedang menanti
Tapi entah penantian seperti apa ini
Entah menanti siapa aku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar