Rabu, 15 April 2015

2 Januari 2015

(5 menit sebelum berganti hari)

Kosong
Hampa semua
Seperti mati rasa
Tapi dingin
Ada sedikit hangat memeluk lenganku
Ya, itu bayangan tentangmu
Semakin nyata, semakin mendekapku erat
Lalu hujan turun deras
Aku terlelap

ANTARA MATA


                Tak ada yang menarik perhatianku selain sepasang matanya yang indah. Setiap kali mata kami berjumpa, tak ada kata yang berani menyapa. Mereka bersembunyi dan membiarkan pertemuan kedua pasang mata ini berlalu. Lalu hatiku mulai bertanya, itu mata milik siapa?

            Mata yang indah itu milik siapa? Masih saja hatiku bertanya padahal ia mengenalnya. Tapi benarkah aku juga mengenalnya atau hanya hatiku saja? Ah, pentingkah itu? Pertemuan mata ini selalu terngiang-ngiang dalam pikiranku. Mengapa banyak pertanyaan yang harus kujawab sendiri?

            Mata yang indah itu dan mataku berjumpa lagi dan lagi. Mata kami saling berbicara dalam bahasa yang tak kami mengerti. Seharian penuh, tidak, lebih, selama itu mataku dan matanya yang indah asyik sendiri. Seperti membahas sesuatu, seperti ada sesuatu di antara mata kami.

            Aku merasa nyaman dengannya. Mata yang indah itu selalu bersamaku. Mungkinkah dia sudah menjadi milikku? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul mengikuti aku yang mulai mengartikan kedekatan mataku dan matanya dengan sebutan “Cinta”. Entah dari mana aku mengambil kata itu untuk mengartikan kedekatan mataku dan matanya. Aku seperti pernah mengenal “Cinta”, tapi aku ragu.

            Hari-hari pun kami lalui bersama, bersama mata kami yang selalu tersipu malu dan tak banyak bicara. Benarkah aku miliknya dan dia milikku? Jangan biarkan aku menjawab sendiri. Jangan biarkan aku mengartikan sendiri. Tapi bersamanya adalah hal terindah.