Rabu, 28 Agustus 2013

Mengingatmu Melelahkan [Sosok yang Berbeda]

      Karena aku cukup lelah mengingatmu, maka aku menuliskannya. Barangkali saja aku lupa, tinggal aku baca.

      Mengingatmu membuatku lelah. Aku bahkan tak berani untuk merindukanmu. Rasanya sama seperti menimbun luka. Saat kamu hadir, rinduku pun terbalas. Namun, kesakitan datang menghampiri selepas itu. Seakan mengancamku agar tak merindukanmu lagi. Aku masih saja keras kepala.

      Betapa kuingin memiliki senyummu. Betapa kuingin memiliki ruangan dihatimu. Tapi, semakin ku ingin, semakin ku terluka. Semakin mengingatmu, semakin membuatku lelah. Berlari menuju padamu yang juga berlari, bahkan lebih kencang dariku. Inilah akibatnya dari menyayangi seseorang diam-diam. Aku tak dapat menyalahkanmu jika suatu saat hatiku terluka olehmu. Tapi, meskipun hatiku terluka, aku pun juga tak akan pernah menyalahkanmu. 

      Hari demi hari telah berlalu, namun masih saja aku terpaku olehmu. Saat kamu hadir dalam hari-hariku, aku hanya sanggup membungkam. Membungkam semua rasa yang kurasakan. Bersikap seolah-olah aku baik-baik saja. Mengingatmu memang melelahkan....

Senin, 26 Agustus 2013

BENDERA PLASTIK


            Secercah sinar mentari pagi menyapa puluhan manusia yang masih dianggap sebagai rakyat. Meskipun  miskin, jelata, kotor, manusia-manusia itu masih dianggap rakyat. Mereka mendengar negaranya maju, namun tak mengalaminya. Tahun berganti tahun dan hidup mereka selalu menderita.
            Jarak mereka dengan orang-orang besar, orang-orang yang mengatur hidup mereka, sangat jauh. Ingin sekali mereka mengikuti kemajuan negerinya, tapi mereka hanyalah mereka. Yang terasingkan dan terlupakan. Hanya karena mereka tinggal di pelosok negeri, tangisan mereka selalu diabaikan. Dianggap tak penting. Mereka tak pernah sekalipun melupakan negerinya, menghormati hari-hari Nasional, tapi negerinya terlalu lama melupakan mereka.
            Mereka tak berharap banyak. Mereka tak ingin apapun kecuali satu, sesuatu yang belum pernah mereka sentuh dengan tangan. Mereka hanya menyentuhnya dengan linangan air mata. Tangan mereka yang berbau tanah tak mungkin pernah menyentuh benda pusaka itu. Ya, Sang Merah Putih. Selembar bendera pun tak ada yang pernah berkibar di tanah kering kerontang tempat tinggal mereka. Mereka belum pernah memilikinya. Belum pernah ada yang yang berkibar di tanah mereka.
Hingga suatu hari, salah seorang dari mereka kembali dari perantauannya. Dia merantau ke kota demi bebas dari penderitaan. Namun, pakaiannya masih sama seperti 5 tahun lalu, saat dia pergi meninggalkan tanah ini. Hanya saja pakaiannya itu kini usang, robek, kotor, tapi dia membawa sebuah benda berbahan plastik yang terkaitkan di sebuah batang lidi. Warnanya merah dan putih. Ya, Tuhan. Itu adalah bendera negeri mereka. Isak tangispun pecah. Mereka berusaha menyentuh bendera itu dengan tangan-tangannya yang kasar, bau, penuh derita. Namun, lihatlah senyum kebahagiaan yang belum pernah tercipta sebelumnya kini menghiasi tanah kering kerontang ini. Dan bendera plastik itupun mereka junjung tinggi bersama sambil menyanyikan lagu kebangsaan negeri. Tanah mereka, Ibu Pertiwi, menyaksikan kebahagian bersama.

[Puisi Malam] Suatu Malam Ketika BBMku Padamu Pending

Aku tersentak,
terbawa arus oleh sesuatu yang kamu anggap angin lalu
tapi tetap kuanggap nyata
dan kamu masih meyakinkanku sebaliknya

Kamu membuatku diamuk rasa
meninggalkanku terjebak dalam kekhawatiran
Tak pernah memberiku kejelasan
Kamu membuatku selalu khawatir

Jangan mengartikan ini sebagai kesalahanmu
aku tak menyalahkanmu
atas semua rasa yang kudapatkan
mungkin aku salah mengartikan


Suatu Malam Ketika BBMku Padamu Pending

      Selamat malam kamu yang hadirnya selalu kurindukan. Meski kamu hadir memberiku luka, aku selalu menerimanya sebagai kebahagian. Kamu tahu? betapa aku menganggapmu tak biasa saja, meskipun kamu selalu mencoba menganggapku biasa saja atau mungkin kamu memang menganggapku begitu. Aku tak mempermasalahkannya, kok.
      Kita memang tak jauh dalam jarak, tapi kita begitu jauh dalam komunikasi. Mengapa aku selalu kehilangan keberanian untuk mmenciptakan perbincangan denganmu atau hanya sekedar menyapa. Salahkan saja aku. Bukan kamu. Aku terlalu takut untuk berbicara denganmu. Aku yang membuatmu menganggapku bahwa aku menganggapmu biasa saja.
      Aku hanya ingin sebuah kejelasan. Seseorang pasti pernah atau akan bertemu dengan sesuatu yang disebut kejenuhan. Kamu tahu itu, aku pasti akan merasakannya. Dan aku tahu kamu pun juga begitu. Itulah hal yang kutakutkan. Kamu bisa saja dengan mudah meyakinkanku bahwa kamu benar-benar telah pergi dariku dengan bersama sosok baru yang mungkin kukenal. Tapi, aku tak pernah sesekalipun mencoba menggenggam sosok baru yang kutahu lebih baik darimu dalam hal apapun. Aku selalu mengingatmu.
      Aku memang hampir saja menggenggam sosok baru itu, tapi sebenarnya aku tak pernah mencoba melakukannya. Menggenggam berarti aku menerimanya. Menggenggamnya berarti aku melepasmu dari genggamanku. Aku selalu mengingatmu. 
      Aku memperjuangkanmu dalam doa. Tak seperti kamu yang katanya telah berbuat banyak hal untuk memperjuangkanku. Jangan anggap aku mengabaikanmu, aku juga tak pernah menganggapmu mengabaikanku. Dan sekali lagi, aku butuh kejelasan. Bila memang kamu ingin mengakhiri perasaan ini, katakanlah. Aku siap menerima.
      Selamat malam kamu yang telah kutuliskan dalam sebuah puisiku malam ini.

Minggu, 11 Agustus 2013

Kala Perasaan Diterkam [END]

      Seiring berjalannya waktu, seiring juga gue menjauh dari dia. Memutus komunikasi meskipun kadang masih terhubung. Gue emang salah, tapi gue yakin kok sama apa yang gue perbuat pasti berbuah baik buat gue ataupun dia. Gue bakalan menjadikan semua ini sebagai pelajaran. Gue nggak bakalan menyesal melakukan keputusan kayak gini.
       Gue minta maaf ke dia. Mungkin cara gue salah. Tapi dengan ini gue merasa lega. Dan jangan anggap juga kalau gue selalu salah ya. Karena semuanya terjadi bukan karena sikap gue doang. Dia juga punya kesalahan.
        Gue tahu, dia pasti telah menemukan pengganti gue. Ya meskipun gue belum, tapi tak masalah. Semoga aja dia nggak menganggap gue orang jahat. Karena sesungguhnya gue masih anak remaja labil. Sedang dalam proses menuju kedewasaan. Wajarlah kalau gue meakukan kesalahan kayak gini. Yang nggak wajar kalau gue sering melakukan kesalah kayak gini, tapi nyatanya enggak kan. Gue itu orang baik kok. Ya semoga dia ngerti kalau dia emang udah dewasa, sama kayak apa yang dia omongin ke gue.

Kamu, Sosok Baru

      Selamat malam kamu yang sedang membaca ini. Iya, kamu. Kamu yang berada di provinsi yang berbeda denganku. Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja, kan? Apakah kamu sudah makan? Aku ingin menunjukkan perhatianku padamu. Tapi kita terpisah jarak yang begitu jauh. Hanya dengan bermodalkan sinyal dan modem, kita bisa menciptakan percakapan. Percakapan sederhana yang kuanggap tak biasa saja. Apakah kamu juga menganggapnya begitu. Ah, entahlah. Tapi kini percakapan kita terhenti, ya karena di sini, di tempatku berada, sinyal begitu jelek. Sinyalnya aja yang jelek, aku enggak.
      Kamu memang sosok baru dalam hidupku. Dan aku adalah sosok baru dalam hidupmu. Kita memang belum pernah bertemu, tapi kita saling mengenal. Iya, bukan? Aku sangat menyukai percakapan kita. Sangat menyenangkan dan selalu membuatku senang. Aku ingin mengenalmu lebih banyak lagi. Maukah kamu mengenalku lebih banyak lagi juga? Jangan takut, aku tak akan pergi. Aku akan menunggu. Kamu akan kubahagiakan. Jangan takut dengan Long Distance Relationship. Itu hanya sebutan orang. Kita akan selalu dekat. Harus saling percaya. Kamu ragu? Jangan ragu. Kutulis ini untuk kamu. Iya, kamu.
      Sejak pertama kali kita menjalin komunikasi hingga sekarang, aku tak pernah meragukanmu. Aku merasa jika aku dan kamu bisa menjadi kita. Hanya dengan keberanian untuk menciptakan saling percaya saja, pasti akan terwujud 'kita'. Aku tidak tahu mengapa aku ingin aku dan kamu menajadi 'kita'. Aku tak dapat menjelaskan. Aku merasakan sesuatu yang berbeda. Iya, aku tahu. Untuk menjadi 'kita' memang butuh proses. Karena kita bukan seperti anak remaja tolol yang mudah saja menjalin hubungan kekasih, mengadu cinta padahal hanya sekedar suka. Aku tahu, kita bukan remaja nakal. Aku dan kamu adalah orang baik-baik. Aku hanya ingin kamu tahu bagaimana perasaanku terhadapmu kini. Aku bukanlah orang yang mudah menaruh hati pada lawan jenis. Dan sekalinya aku telah jatuh hati, aku akan setia. Bukan seperti anak remaja tolol yang mudah melupakan dan mencari pengganti atau yang pergi karena bosan. 
      Apakah kamu masih membaca sampai ini? Apakah tulisanku ini terlalu panjang? Kamu sudah mau tidur, ya? Baiklah, akan kuakhiri tulisanku ini. Aku hanya ingin meluapkan perasaanku. Aku ingin kamu tahu. Aku ingin kita selalu menjalin komunikasi. Meskipun sinyal jelek, kalau kita saling berusaha pasti selalu ada komunikasi. Selamat malam, kamu. Selamat tidur. Semoga besok pagi kamu bisa bangun dengan sehat dan mengucapkan selamat pagi untukku. Ah, tidak mungkin juga sih kamu mengucapkan untukku. Yasudahlah. Aku akan baik-baik saja. Semoga kamu juga baik-baik saja di sana. Aku akan menulis untukmu lagi esok. Maukah kamu menunggu dan membacanya? :)

Jumat, 09 Agustus 2013

Alloh Selalu Dekat dengan Hamba-Nya


Namaku adalah Lipi. Selama menjadi anak sekolahan, hampir setiap hariku kuhabiskan dengan kegiatan berbau sekolah. Berangkat pagi dan pulang menjelang petang. Kau pasti tau betapa jauhnya aku bahkan dengan tetangga terdekat sekalipun. Mungkin mereka menganggapku buruk karena interaksiku dengan mereka berkurang, ditambah lagi mereka sering melihatku pulang malam. Mereka tidak tahu betapa kerasnya aku menempuh jarak antara aku yang sekarang dan masa depanku. Dan malam ini kutuliskan sebuah cerita dari hidupku belakangan ini. Cerita yang tak kuharapkan dibaca bahkan olehmu.
Semua berubah begitu saja. Setiap kali aku bangun dari tidur malamku, setiap pagi, setiap hari, aku tak pernah mengerti tentang perasaanku. Tentang apa yang kupikirkan, tentang apa yang kuinginkan. Kau tau aku mudah terbawa emosi. Aku tipe orang yang sensitif. Tapi mereka selalu ada buatku, selalu menerimaku dan membimbingku. Aku menyayangi mereka.
Kadang,  aku malah tak memahami mengapa aku hidup saat aku sedang mencoba untuk memahaminya. Aku juga tak mengerti mengapa kutuliskan apa yang sedang kupikirkan saat ini. Mungkin kau tak akan paham dengan tulisan ini. Kau harus mengalaminya untuk bisa mengerti, tapi itu tak perlu kau lakukan. Kusarankan, lebih baik jangan melanjutkan membaca ceritaku ini. Cerita ini akan membekas di ingatanmu dan aku tak ingin siapa pun mengingatnya.
            Baiklah, sudah kuingatkan. Dan jika kau masih berlanjut membaca berarti kau akan mengetahui lanjutan cerita berikutnya. Jangan salahkan aku bila cerita ini membingungkan atau beralur tak jelas. Kau harus lihat betapa cepatnya aku menulis cerita ini tanpa menghapus satu huruf pun. Aku merasa harus mengungkapkan apa yang kurasakan secepatnya. Karena itu lebih baik daripada harus dipendam sendiri. Lihatlah betapa kasihannya aku. Aku sering berlarut-larut dalam penyesalan dan membiarkan kemalasan memakan waktuku.
Sebagai pelajar muda, aku memiliki banyak kesempatan. Tapi tahukah kau bahwa kekuatan lelah begitu menakutkan. Kau tidak akan mengerti dengan apa yang kuceritakan karena kau tidak mengalaminya. Aku bahkan tak bisa menjelaskannya.
            Aku tak pernah memahami diriku. Rasanya aku seperti berpura-pura menjalani kehidupan. Aku merasa ini bukan ragaku ketika aku mencoba untuk memahami. Aku merasakan darahku beredar. Aku benar-benar merasakan oksigen yang masuk melalui hidungku. Aku merasakan sesuatu yang sedang bekerja dalam perutku. Aku merasakan pikiranku. Tapi aku tak pernah bisa menjelaskan apa yang kurasakan. Dan saat itulah aku berpikir, apakah ini jiwaku berada pada raga yang seharusnya atau apakah ragaku berada pada jiwa yang seharusnya?
            Semakin lama, ceritaku semakin tak jelas. Melenceng, bahkan ke arah yang tak kupikirkan sebelumnya. Setelah kau membaca sampai sini, apa yang telah kau simpulkan? Ya benar, aku sedang kebingungan. Aku pernah merasa kesepian yang begitu mendalam. Bahkan sempat membuatku gelisah. Kau tau kan betapa tidak enaknya merasa kesepian? Saat itu, kupikir tak ada yang memahamiku, bahkan diriku sendiri. Kupikir, semua orang sangatlah jauh. Aku tak tau sosok yang bagaimana sih aku buat mereka. Yang jelas, aku merasa sendiri. Tapi aku salah. Seharusnya aku membuka hati lebih luas lagi. Seharusnya aku selalu sadar bahwa Alloh selalu dekat dengan hamba-Nya. Dia takkan membiarkanku sendiri, terpuruk, tersesat. Dia akan memberiku jalan yang indah. Seharusnya aku menjadi seorang hamba yag baik. Selalu beristighfar. Astaghfirulloh, betapa lamanya setan menguasai hatiku. Ya Alloh, ya Tuhanku, ampunilah aku dan semua orang yang kusayangi....
            Dan sepertinya, seharusnya aku tak perlu melanjutkan ceritaku. Karena aku tau, kau masih saja membacanya meskipun sudah kuperingatkan. Bila aku melanjutkan bercerita, aku pastikan kau tak akan melupakan apa yang telah kau baca. Terima kasih sudah membaca postingan ini.

Selasa, 06 Agustus 2013

Cerpen ini dulu buat ikut #TantanganKreatif :')


            Namanya adalah pena abadi, sebuah goresan yang tiada henti. Hari ini dia telah menorehkan sebuah kisah perjalanan yang cukup melelahkan, yang sempat menjatuhkan semangat beberapa orang termasuk si penulis cerita ini. Tak ada yang dapat mengubah ketentuan dari Yang Maha Esa. Semua telah diatur dengan sempurna oleh Tuhan, tanpa campur tangan kecanggihan teknologi ataupun logika makhluk yang merasa serba tahu.
            Pena abadi takkan sedikit pun melupakan peristiwa sekecil apapun yang terjadi. Dia takkan membiarkannya begitu saja lolos dari genggaman kehidupan. Semua tergores rapi, runtut, dan sempurna. Apalagi peristiwa besar yang memengaruhi banyak makhluk maupun peristiwa yang telah mengubah kehidupan seseorang.
            Hari ini pena abadi tengah menggoreskan betapa luar biasanya kejutan atau yang biasa disebut surprise dari kehidupan. Baru saja, sesuatu mengguncang perasaan ini. Lebih sakit dari rasanya jatuh cinta pada dua orang, kemudian dipaksa oleh waktu untuk memilih salah satunya tetapi hati tak sanggup untuk menyakiti yang satunya lagi sehingga memutuskan untuk tidak memilih dan melepaskan kedua orang itu untuk berbahagia dengan yang lain. Guncangan itu semakin mencekam. Rasanya atmosfer tak lagi bersahabat.
            Guncangan itu berasal dari kenyataan yang tak terduga. Kenyataan bahwa si penulis telah ditentukan masuk dalam jurusan yang sama sekali tak diinginkan, jurusan IPS. Meskipun nilai raport dan ranking bagus, ada dua mata pelajaran IPA yang tidak memenuhi syarat. Dan pena abadi tetap meneruskan goresannya. Kenyataan memaksa diri ini untuk mengubah impian. Impian yang tak bisa dicapai dengan jurusan IPS. Rasanya seperti me-reset hidup. Begitu menyakitkan dan sangat memukul. Derai air mata tak basa-basi dalam membasasi moment penting itu.
            Tak pernah terpikirkan bahwa kenyataan seperti itu terjadi. Mengatur ulang kegiatan yang ingin dilakukan kelak di masa depan karena tak mungkin terjadi pastilah tak semudah membalikkan telapak tangan. Penyesalan memang selalu datang terakhir. Tapi penyesalan tak selalu menjadi bagian akhir dalam hidup. Banyak yang menjadikannya tonggak kesuksesan. Menjadikannya sebagai pelajaran dan semangat untuk bangkit.
            Jiwa ini tak akan kehilangan semangat. Apapun jurusannya, asalkan niat dan berusaha, semua orang dapat sukses. Bukankah begitu? Meskipun kenyataan yang tak diinginkan dapat melemahkan semangat dan menurunkan kepercayaan diri serta mampu menyakitkan hati, setidaknya tak ada yang tidak mungkin terjadi bila ada niat dan usaha.
            Pena abadi selalu jujur. Dia tak pernah menutupi segalanya. Selalu menorehkan yang memang sebenarnya terjadi. Semua yang telah terjadi syukurilah, tersenyumlah, bersabarlah, ikhlaskan.....

Senin, 05 Agustus 2013

Juli Berlalu

     Seiring berjalannya waktu, Bulan Juli telah berlalu membawa pergi masa-masa indah kita. Ya, aku dan kamu pernah menciptakan kenangan yang indah bersama. Menghabiskan waktu yang berjalan begitu cepat. Kita berbagi cerita. Menertawakan hal yang sama. Sayangnya, kita hanya sebatas aku dan kamu waktu itu.

    Hingga diujung Bulan Juli, kulihat perubahanmu yang sempat merenggut perasaanku. Mengapa seiring Bulan Juli berakhir, kau pun juga mengakhiri kehangatanmu padaku. Ditambah lagi, sosokmu semakin jauh dariku. Kau dapatkan sosok baru dan aku kau tinggalkan mengais-ngais masa indah sendiri.

    Bulan Juli pun kini menyimpan banyak kenangan kita. Kupikir ia akan membagikannya dengan Agustus, tapi sepertinya ada luka yang tercipta menyirnakan kebahagiaan. Luka yang sempat memupuskan keberanianku untuk memerhatikanmu meski kutahu kau tak akan melakukan hal yang sebaliknya.

    Diam dan membisu dalam sakit, sakit karena memendam rasa yang tak mungkin kuungkapkan. Aku adalah wanita. Tak mungkin memulai. Wanita yang kini tak kau anggap hadir dalam hidupmu tentunya hanya dapat menyembunyikan rasa dan menunggu keindahan yang kata orang kan datang pada waktunya. Meski ku tak tahu kapan, tapi aku akan menunggu.

    Tidak, aku takkan sanggup menunggu. Menunggumu sama saja menabung luka. Bagaimana jika pada akhirnya penantianku kan sia-sia? Aku tak mau menunggu lagi seperti dulu. Aku ingin menjalani hari-hariku bersama seseorang yang tak pernah membiarkan aku terluka. Seseorang yang selalu memberikanku kehangatan meski bulan berlalu, dan takkan membiarkan sosok baru menggantikanku. Aku ingin mengukir kebahagiaan bersamanya. Menyertakannya dalam lembaran hidupku serta menghadirkannya dalam setiap doaku.

Jumat, 02 Agustus 2013

Kala Perasaan di Terkam

      Dengan segala kekurangan yang gue miliki, seiring berjalannya waktu, gue menciptakan banyak kesalahan. Kesalahan yang gue lakukan baik dalam keadaan sadar ataupun enggak. Atau bahkan yang gue pikir benar ternyata salah. Hidup emang gini, lo nggak bakalan lepas dari ujian hidup sebelum mati.
      Gue mau cerita sedikit sebelum gue beranjak buat tidur. Tentang perasaan gue ke seseorang yang kini udah gue lupakan. Lupakan? ya, gue melupakan dia. Belum lupa banget sih, tapi gue udah berusaha buat jauh dari dia. Selain jauh dalam jarak, gue juga harus jauh dalam berkomunikasi sama dia. Gue merasa nggak cocok dan kadang nggak nyaman sama dia. Gue nggak tau kenapa gue kayak gini. Mungkin ini cara gue menjauh dari dia. Dan mungkin cara gue salah. Gue tau dia terluka, tapi gue lebih terluka lagi karena dia nggak pernah bisa tau perasaan gue.
      Oke. Kalo dia bilang semua karena gue yang merahasiakan banyak hal, gue terima. Karena nyatanya gue emang merahasiakan banyak hal dari dia. Kenapa? Karena gue merasa kalo dia bukan orang yang tepat buat menyimpan rahasia dari gue. Gue emang selalu kehabisan kata-kata kalo ngomong sama dia. Dan gue baru sadar, gue bersikap gitu karena gue berhati-hati buat mengungkapkan apa yang gue rasakan. Kalo gue ngomong ke orang yang nggak tepat, hal buruk mungkin bisa saja terjadi.
      Dia nggak suka cara gue ngomong. Dia belum bisa menerima gue apa adanya, mungkin malah nggak bisa. Secara tersirat, dia ingin gue sesuai sama apa yang dia harapkan. Tapi gue apa adanya, gue emang gini. Gue sering nggak peduli sama perasaan gue yang sesungguhnya. Gue sering terbawa suasana.
      Melupakan, gue pikir itulah cara yang tepat. Gue lelah mengumpat dari perasaan. Perasaan gue yang sesungguhnya ke dia emang nggak bisa lebih dari sekadar teman. Dan gue harap semoga dia bisa mengerti. Tapi, banyak hal yang gue nggak habis pikir. Dia menilai gue jelek dalam bersikap. Gue nggak terima sih sebenarya. Tapi mau gimana lagi. Meskipun kenyataannya nggak begitu. Dia sih yang jauh, jadinya nggak tau keadaan di sini. Perasaan gue kayak diterkam setiap kali dia muncul atau setiap kali gue teringat dia.
      Kesalahan yang gue lakukan ke dia adalah mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya nggak gue rasakan. Gue emang salah, kayaknya gue memberi harapan palsu ke dia.

[to be continued...]

Baca nih!

Sebagian isi blog ini cuma cerita pendek atau cerpen aja. Cuma beberapa yang curhat-curhat sih. Jadi, jangan ngambil kesimpulan sendiri atau mempermasalahkan isi blog saya. Terima kasih. Selamat malam.

Kamis, 01 Agustus 2013

SOMETIMES, YOU’RE MY SPIRIT

            Ini namanya rindu atau bahasa alaynya kangen. Entah, sejak kapan gue merasakan hal yang seharusnya nggak gue rasakan. Setiap kali gue coba buat biasa aja, nyatanya gue selalu nggak biasa aja. Menghadapi kenyataan bahwa dia kini telah berubah emang susah, nggak bisa asal menerima gitu aja. Gue nggak bisa mengungkapkan apa yang gue rasakan lewat mulut, lewat bicara langsung. Gue cuma bisa merasakan dan cuma Tuhan serta hati gue yang tau apa yang gue rasakan. Susah buat dijelaskan, nah itu yang jadi masalahnya.
            Perasaan gue ke dia itu lebih dari sekadar teman dekat. Dan kalo ditanya kenapa, ya karena hati gue nyaman kalo sama dia. Gue pengen dia tau yang sebenarnya. Yang sebenarnya, dia udah jadi penyemangat gue. Penyemangat gue pas gue lagi benar-benar ngedown banget, penyemangat hari-hari gue. Dia datang ke kehidupan gue emang udah lama, tapi kalo datang ke hati gue emang belum lama ini. Ya sekitar 2 bulan yang lalu. Sebenarnya, gue pernah suka sama dia waktu SMP, tapi karena dia udah ada yang punya, perasaan gue luntur. Ya maklumlah, masih labil dan cuma sekadar suka.
            Dia itu bisa banget membuat gue merasa nyaman. Sayangnya, dia selalu dateng ke gue kalo dia lagi ada masalah sama mantannya. Dia membawa luka-lukanya, minta gue buat menyembuhkan pake nasihat atau menemani dia sms-an. Dan lama-lama semakin terbiasa, gue dan dia jadi dekat. Kini gue paham sama kalimat “Cinta datang karena terbiasa.”. Ya karena terbiasa, ada rasa nyaman yang tercipta dan ada keinginan untuk selalu bersama.
            Gue nggak tau apa namanya kalo bukan cinta. Gue pernah menangis semalaman gara-gara dia. Dia dekat sama orang lain, suka juga. Dan itu membuat gue merasa jauh sama dia. Kini, gue nggak mendapatkan rasa nyaman itu lagi. Dia udah nggak menyemangati gue lagi. Perubahan dari dia membuat gue terpukul. Rasanya, gue ingin mengungkapkan apa yang gue rakasan. Seenggaknya biar dia tau atau biar gue merasa lega. Tapi, gue nggak mempunyai keberanian buat merealisasikan apa yang udah gue pikirkan. Gue cuma bisa lihat perkembangannya sama orang yang dia suka itu. Sakit sih emang, tapi kalo itu yang membuat dia bahagia yaudah.
            Gue nggak tau kenapa akhir-akhir ini gue sering murung. Sebenarnya gue pura-pura nggak tau aja sih. Alasan khususnya adalah karena gue jadi jauh sama dia, dia jarang membalas sms dari gue. Kalo ketemu atau papasan, gue cuma bisa bersikap biasa aja meskipun dalam hati nggak biasa aja. Dia juga biasa aja ke gue kalo gue perhatikan, ya kali. Yang pasti, dia nggak tau kalo gue sering memikirkannya, sering ngangenin dia. Dia juga nggak tau kalo gue sering membahas dia di twitter. Dia itu selalu lari-lari dipikiran gue. Gue udah terlanjur sayang sama dia. Jadi, gue bener-bener merasa sakit yang teramat dalam karena dia udah berubah. Kadang, dia jadi penyemangat gue. Tapi, kadang juga, dia jadi penghancur semangat gue. Dan gue nggak mau, semangat gue tergantung sama dia meskipun saat ini kenyataanya begitu. Andai aja dia tau perasaan gue ke dia itu gimana, gue ingin dia mengungkapkan perasaannya ke gue. Jujur aja, gue penasaran sama perasaannya dia ke gue. Apakah sama kayak dia ke teman-teman perempuannya? Kenapa sikapnya kayak gitu ke gue? Apa ada yang membuat gue spesial buat dia, atau dia emang kayak gitu kalo ke perempuan? Gue nggak tau... Gue cuma ingin dia ada didekat gue, gue ingin memiliki perasaannya, gue ingin dia jadi penyemangat gue dan sebaliknya.