Namaku adalah Lipi. Selama menjadi anak sekolahan, hampir setiap hariku
kuhabiskan dengan kegiatan berbau sekolah. Berangkat pagi dan pulang menjelang
petang. Kau pasti tau betapa jauhnya aku bahkan dengan tetangga terdekat
sekalipun. Mungkin mereka menganggapku buruk karena interaksiku dengan mereka
berkurang, ditambah lagi mereka sering melihatku pulang malam. Mereka tidak
tahu betapa kerasnya aku menempuh jarak antara aku yang sekarang dan masa
depanku. Dan malam ini kutuliskan sebuah cerita dari hidupku belakangan ini. Cerita
yang tak kuharapkan dibaca bahkan olehmu.
Semua berubah begitu saja. Setiap kali aku bangun dari tidur malamku,
setiap pagi, setiap hari, aku tak pernah mengerti tentang perasaanku. Tentang apa
yang kupikirkan, tentang apa yang kuinginkan. Kau tau aku mudah terbawa emosi. Aku
tipe orang yang sensitif. Tapi mereka selalu ada buatku, selalu menerimaku dan
membimbingku. Aku menyayangi mereka.
Kadang, aku malah tak memahami mengapa
aku hidup saat aku sedang mencoba untuk memahaminya. Aku juga tak mengerti
mengapa kutuliskan apa yang sedang kupikirkan saat ini. Mungkin kau tak akan
paham dengan tulisan ini. Kau harus mengalaminya untuk bisa mengerti, tapi itu
tak perlu kau lakukan. Kusarankan, lebih baik jangan melanjutkan membaca
ceritaku ini. Cerita ini akan membekas di ingatanmu dan aku tak ingin siapa pun
mengingatnya.
Baiklah, sudah kuingatkan. Dan jika
kau masih berlanjut membaca berarti kau akan mengetahui lanjutan cerita
berikutnya. Jangan salahkan aku bila cerita ini membingungkan atau beralur tak
jelas. Kau harus lihat betapa cepatnya aku menulis cerita ini tanpa menghapus
satu huruf pun. Aku merasa harus mengungkapkan apa yang kurasakan secepatnya. Karena
itu lebih baik daripada harus dipendam sendiri. Lihatlah betapa kasihannya aku.
Aku sering berlarut-larut dalam penyesalan dan membiarkan kemalasan memakan
waktuku.
Sebagai pelajar muda, aku memiliki banyak kesempatan. Tapi tahukah kau
bahwa kekuatan lelah begitu menakutkan. Kau tidak akan mengerti dengan apa yang
kuceritakan karena kau tidak mengalaminya. Aku bahkan tak bisa menjelaskannya.
Aku tak pernah memahami diriku. Rasanya
aku seperti berpura-pura menjalani kehidupan. Aku merasa ini bukan ragaku
ketika aku mencoba untuk memahami. Aku merasakan darahku beredar. Aku benar-benar
merasakan oksigen yang masuk melalui hidungku. Aku merasakan sesuatu yang
sedang bekerja dalam perutku. Aku merasakan pikiranku. Tapi aku tak pernah bisa
menjelaskan apa yang kurasakan. Dan saat itulah aku berpikir, apakah ini jiwaku
berada pada raga yang seharusnya atau apakah ragaku berada pada jiwa yang
seharusnya?
Semakin lama, ceritaku semakin tak
jelas. Melenceng, bahkan ke arah yang tak kupikirkan sebelumnya. Setelah kau membaca
sampai sini, apa yang telah kau simpulkan? Ya benar, aku sedang kebingungan. Aku
pernah merasa kesepian yang begitu mendalam. Bahkan sempat membuatku gelisah. Kau
tau kan betapa tidak enaknya merasa kesepian? Saat itu, kupikir tak ada yang
memahamiku, bahkan diriku sendiri. Kupikir, semua orang sangatlah jauh. Aku tak
tau sosok yang bagaimana sih aku buat mereka. Yang jelas, aku merasa sendiri. Tapi
aku salah. Seharusnya aku membuka hati lebih luas lagi. Seharusnya aku selalu
sadar bahwa Alloh selalu dekat dengan hamba-Nya. Dia takkan membiarkanku
sendiri, terpuruk, tersesat. Dia akan memberiku jalan yang indah. Seharusnya aku
menjadi seorang hamba yag baik. Selalu beristighfar. Astaghfirulloh, betapa
lamanya setan menguasai hatiku. Ya Alloh, ya Tuhanku, ampunilah aku dan semua
orang yang kusayangi....
Dan sepertinya, seharusnya aku tak
perlu melanjutkan ceritaku. Karena aku tau, kau masih saja membacanya meskipun
sudah kuperingatkan. Bila aku melanjutkan bercerita, aku pastikan kau tak akan
melupakan apa yang telah kau baca. Terima kasih sudah membaca postingan ini.