Seiring berjalannya waktu, Bulan Juli telah berlalu membawa pergi masa-masa indah kita. Ya, aku dan kamu pernah menciptakan kenangan yang indah bersama. Menghabiskan waktu yang berjalan begitu cepat. Kita berbagi cerita. Menertawakan hal yang sama. Sayangnya, kita hanya sebatas aku dan kamu waktu itu.
Hingga diujung Bulan Juli, kulihat perubahanmu yang sempat merenggut perasaanku. Mengapa seiring Bulan Juli berakhir, kau pun juga mengakhiri kehangatanmu padaku. Ditambah lagi, sosokmu semakin jauh dariku. Kau dapatkan sosok baru dan aku kau tinggalkan mengais-ngais masa indah sendiri.
Bulan Juli pun kini menyimpan banyak kenangan kita. Kupikir ia akan membagikannya dengan Agustus, tapi sepertinya ada luka yang tercipta menyirnakan kebahagiaan. Luka yang sempat memupuskan keberanianku untuk memerhatikanmu meski kutahu kau tak akan melakukan hal yang sebaliknya.
Diam dan membisu dalam sakit, sakit karena memendam rasa yang tak mungkin kuungkapkan. Aku adalah wanita. Tak mungkin memulai. Wanita yang kini tak kau anggap hadir dalam hidupmu tentunya hanya dapat menyembunyikan rasa dan menunggu keindahan yang kata orang kan datang pada waktunya. Meski ku tak tahu kapan, tapi aku akan menunggu.
Tidak, aku takkan sanggup menunggu. Menunggumu sama saja menabung luka. Bagaimana jika pada akhirnya penantianku kan sia-sia? Aku tak mau menunggu lagi seperti dulu. Aku ingin menjalani hari-hariku bersama seseorang yang tak pernah membiarkan aku terluka. Seseorang yang selalu memberikanku kehangatan meski bulan berlalu, dan takkan membiarkan sosok baru menggantikanku. Aku ingin mengukir kebahagiaan bersamanya. Menyertakannya dalam lembaran hidupku serta menghadirkannya dalam setiap doaku.
Hingga diujung Bulan Juli, kulihat perubahanmu yang sempat merenggut perasaanku. Mengapa seiring Bulan Juli berakhir, kau pun juga mengakhiri kehangatanmu padaku. Ditambah lagi, sosokmu semakin jauh dariku. Kau dapatkan sosok baru dan aku kau tinggalkan mengais-ngais masa indah sendiri.
Bulan Juli pun kini menyimpan banyak kenangan kita. Kupikir ia akan membagikannya dengan Agustus, tapi sepertinya ada luka yang tercipta menyirnakan kebahagiaan. Luka yang sempat memupuskan keberanianku untuk memerhatikanmu meski kutahu kau tak akan melakukan hal yang sebaliknya.
Diam dan membisu dalam sakit, sakit karena memendam rasa yang tak mungkin kuungkapkan. Aku adalah wanita. Tak mungkin memulai. Wanita yang kini tak kau anggap hadir dalam hidupmu tentunya hanya dapat menyembunyikan rasa dan menunggu keindahan yang kata orang kan datang pada waktunya. Meski ku tak tahu kapan, tapi aku akan menunggu.
Tidak, aku takkan sanggup menunggu. Menunggumu sama saja menabung luka. Bagaimana jika pada akhirnya penantianku kan sia-sia? Aku tak mau menunggu lagi seperti dulu. Aku ingin menjalani hari-hariku bersama seseorang yang tak pernah membiarkan aku terluka. Seseorang yang selalu memberikanku kehangatan meski bulan berlalu, dan takkan membiarkan sosok baru menggantikanku. Aku ingin mengukir kebahagiaan bersamanya. Menyertakannya dalam lembaran hidupku serta menghadirkannya dalam setiap doaku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar