Senin, 26 Agustus 2013

BENDERA PLASTIK


            Secercah sinar mentari pagi menyapa puluhan manusia yang masih dianggap sebagai rakyat. Meskipun  miskin, jelata, kotor, manusia-manusia itu masih dianggap rakyat. Mereka mendengar negaranya maju, namun tak mengalaminya. Tahun berganti tahun dan hidup mereka selalu menderita.
            Jarak mereka dengan orang-orang besar, orang-orang yang mengatur hidup mereka, sangat jauh. Ingin sekali mereka mengikuti kemajuan negerinya, tapi mereka hanyalah mereka. Yang terasingkan dan terlupakan. Hanya karena mereka tinggal di pelosok negeri, tangisan mereka selalu diabaikan. Dianggap tak penting. Mereka tak pernah sekalipun melupakan negerinya, menghormati hari-hari Nasional, tapi negerinya terlalu lama melupakan mereka.
            Mereka tak berharap banyak. Mereka tak ingin apapun kecuali satu, sesuatu yang belum pernah mereka sentuh dengan tangan. Mereka hanya menyentuhnya dengan linangan air mata. Tangan mereka yang berbau tanah tak mungkin pernah menyentuh benda pusaka itu. Ya, Sang Merah Putih. Selembar bendera pun tak ada yang pernah berkibar di tanah kering kerontang tempat tinggal mereka. Mereka belum pernah memilikinya. Belum pernah ada yang yang berkibar di tanah mereka.
Hingga suatu hari, salah seorang dari mereka kembali dari perantauannya. Dia merantau ke kota demi bebas dari penderitaan. Namun, pakaiannya masih sama seperti 5 tahun lalu, saat dia pergi meninggalkan tanah ini. Hanya saja pakaiannya itu kini usang, robek, kotor, tapi dia membawa sebuah benda berbahan plastik yang terkaitkan di sebuah batang lidi. Warnanya merah dan putih. Ya, Tuhan. Itu adalah bendera negeri mereka. Isak tangispun pecah. Mereka berusaha menyentuh bendera itu dengan tangan-tangannya yang kasar, bau, penuh derita. Namun, lihatlah senyum kebahagiaan yang belum pernah tercipta sebelumnya kini menghiasi tanah kering kerontang ini. Dan bendera plastik itupun mereka junjung tinggi bersama sambil menyanyikan lagu kebangsaan negeri. Tanah mereka, Ibu Pertiwi, menyaksikan kebahagian bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar