Secercah sinar
mentari pagi menyapa puluhan manusia yang masih dianggap sebagai rakyat. Meskipun
miskin, jelata, kotor, manusia-manusia
itu masih dianggap rakyat. Mereka mendengar negaranya maju, namun tak mengalaminya.
Tahun berganti tahun dan hidup mereka selalu menderita.
Jarak mereka dengan orang-orang
besar, orang-orang yang mengatur hidup mereka, sangat jauh. Ingin sekali mereka
mengikuti kemajuan negerinya, tapi mereka hanyalah mereka. Yang terasingkan dan
terlupakan. Hanya karena mereka tinggal di pelosok negeri, tangisan mereka
selalu diabaikan. Dianggap tak penting. Mereka tak pernah sekalipun melupakan
negerinya, menghormati hari-hari Nasional, tapi negerinya terlalu lama
melupakan mereka.
Mereka tak berharap banyak. Mereka
tak ingin apapun kecuali satu, sesuatu yang belum pernah mereka sentuh dengan
tangan. Mereka hanya menyentuhnya dengan linangan air mata. Tangan mereka yang
berbau tanah tak mungkin pernah menyentuh benda pusaka itu. Ya, Sang Merah
Putih. Selembar bendera pun tak ada yang pernah berkibar di tanah kering
kerontang tempat tinggal mereka. Mereka belum pernah memilikinya. Belum pernah
ada yang yang berkibar di tanah mereka.
Hingga suatu hari, salah seorang dari mereka kembali dari perantauannya.
Dia merantau ke kota demi bebas dari penderitaan. Namun, pakaiannya masih sama
seperti 5 tahun lalu, saat dia pergi meninggalkan tanah ini. Hanya saja
pakaiannya itu kini usang, robek, kotor, tapi dia membawa sebuah benda berbahan
plastik yang terkaitkan di sebuah batang lidi. Warnanya merah dan putih. Ya,
Tuhan. Itu adalah bendera negeri mereka. Isak tangispun pecah. Mereka berusaha
menyentuh bendera itu dengan tangan-tangannya yang kasar, bau, penuh derita. Namun,
lihatlah senyum kebahagiaan yang belum pernah tercipta sebelumnya kini
menghiasi tanah kering kerontang ini. Dan bendera plastik itupun mereka junjung
tinggi bersama sambil menyanyikan lagu kebangsaan negeri. Tanah mereka, Ibu
Pertiwi, menyaksikan kebahagian bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar