Jumat, 09 Agustus 2013

Alloh Selalu Dekat dengan Hamba-Nya


Namaku adalah Lipi. Selama menjadi anak sekolahan, hampir setiap hariku kuhabiskan dengan kegiatan berbau sekolah. Berangkat pagi dan pulang menjelang petang. Kau pasti tau betapa jauhnya aku bahkan dengan tetangga terdekat sekalipun. Mungkin mereka menganggapku buruk karena interaksiku dengan mereka berkurang, ditambah lagi mereka sering melihatku pulang malam. Mereka tidak tahu betapa kerasnya aku menempuh jarak antara aku yang sekarang dan masa depanku. Dan malam ini kutuliskan sebuah cerita dari hidupku belakangan ini. Cerita yang tak kuharapkan dibaca bahkan olehmu.
Semua berubah begitu saja. Setiap kali aku bangun dari tidur malamku, setiap pagi, setiap hari, aku tak pernah mengerti tentang perasaanku. Tentang apa yang kupikirkan, tentang apa yang kuinginkan. Kau tau aku mudah terbawa emosi. Aku tipe orang yang sensitif. Tapi mereka selalu ada buatku, selalu menerimaku dan membimbingku. Aku menyayangi mereka.
Kadang,  aku malah tak memahami mengapa aku hidup saat aku sedang mencoba untuk memahaminya. Aku juga tak mengerti mengapa kutuliskan apa yang sedang kupikirkan saat ini. Mungkin kau tak akan paham dengan tulisan ini. Kau harus mengalaminya untuk bisa mengerti, tapi itu tak perlu kau lakukan. Kusarankan, lebih baik jangan melanjutkan membaca ceritaku ini. Cerita ini akan membekas di ingatanmu dan aku tak ingin siapa pun mengingatnya.
            Baiklah, sudah kuingatkan. Dan jika kau masih berlanjut membaca berarti kau akan mengetahui lanjutan cerita berikutnya. Jangan salahkan aku bila cerita ini membingungkan atau beralur tak jelas. Kau harus lihat betapa cepatnya aku menulis cerita ini tanpa menghapus satu huruf pun. Aku merasa harus mengungkapkan apa yang kurasakan secepatnya. Karena itu lebih baik daripada harus dipendam sendiri. Lihatlah betapa kasihannya aku. Aku sering berlarut-larut dalam penyesalan dan membiarkan kemalasan memakan waktuku.
Sebagai pelajar muda, aku memiliki banyak kesempatan. Tapi tahukah kau bahwa kekuatan lelah begitu menakutkan. Kau tidak akan mengerti dengan apa yang kuceritakan karena kau tidak mengalaminya. Aku bahkan tak bisa menjelaskannya.
            Aku tak pernah memahami diriku. Rasanya aku seperti berpura-pura menjalani kehidupan. Aku merasa ini bukan ragaku ketika aku mencoba untuk memahami. Aku merasakan darahku beredar. Aku benar-benar merasakan oksigen yang masuk melalui hidungku. Aku merasakan sesuatu yang sedang bekerja dalam perutku. Aku merasakan pikiranku. Tapi aku tak pernah bisa menjelaskan apa yang kurasakan. Dan saat itulah aku berpikir, apakah ini jiwaku berada pada raga yang seharusnya atau apakah ragaku berada pada jiwa yang seharusnya?
            Semakin lama, ceritaku semakin tak jelas. Melenceng, bahkan ke arah yang tak kupikirkan sebelumnya. Setelah kau membaca sampai sini, apa yang telah kau simpulkan? Ya benar, aku sedang kebingungan. Aku pernah merasa kesepian yang begitu mendalam. Bahkan sempat membuatku gelisah. Kau tau kan betapa tidak enaknya merasa kesepian? Saat itu, kupikir tak ada yang memahamiku, bahkan diriku sendiri. Kupikir, semua orang sangatlah jauh. Aku tak tau sosok yang bagaimana sih aku buat mereka. Yang jelas, aku merasa sendiri. Tapi aku salah. Seharusnya aku membuka hati lebih luas lagi. Seharusnya aku selalu sadar bahwa Alloh selalu dekat dengan hamba-Nya. Dia takkan membiarkanku sendiri, terpuruk, tersesat. Dia akan memberiku jalan yang indah. Seharusnya aku menjadi seorang hamba yag baik. Selalu beristighfar. Astaghfirulloh, betapa lamanya setan menguasai hatiku. Ya Alloh, ya Tuhanku, ampunilah aku dan semua orang yang kusayangi....
            Dan sepertinya, seharusnya aku tak perlu melanjutkan ceritaku. Karena aku tau, kau masih saja membacanya meskipun sudah kuperingatkan. Bila aku melanjutkan bercerita, aku pastikan kau tak akan melupakan apa yang telah kau baca. Terima kasih sudah membaca postingan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar