Selasa, 05 Agustus 2014

Wanita Tua Itu Surgaku


Aku menyipitkan mata sambil tersenyum kepada Mila yang tak henti-hentinya menceritakan kebenciannya terhadap wanita tua di persimpangan jalan dekat rumahnya. Kata Mila, setiap ia hendak pergi ke kampus, wanita tua itu selalu memandanginya dari dekat. Bahkan kata Mila juga, wanita tua itu sempat mengelus-elus kepala Mila. Sontak saja Mila menangkis tangan wanita tua itu hingga terjatuh. Lalu Mila meninggalkannya dan pergi dengan ekspresi kesalnya yang selalu kuingat.    
                                                   
Hari berikutnya, seperti biasa, perbincangan awal antara aku dan Mila adalah tentang wanita tua yang kata Mila masih selalu memandanginya dari dekat. Selama aku berpacaran dengan Mila, baru kali ini aku melihat ia begitu kesal. Meski ia tampak menggemaskan saat itu, tapi ia membuatku angkat tangan. Aku pun menanyakan kepada Mila tentang wanita tua yang membuatnya kesal itu. Kata Mila, wanita tua itu bau, bajunya kumuh, matanya sayup, pipinya peyot, dan kulitnya keriput. Yang paling kuingat, Mila pernah berkata padaku, waktu siang bolong, wanita tua itu datang pada Mila bertelanjang kaki dengan maksud ingin meminjam sandal jepit yang hendak Mila buang ke tempat sampah depan rumahnya. Tapi Mila justru membuang sandal itu ke selokan penuh air hitam dan membiarkan telapak kaki wanita tua itu melepuh karena panas. Yang lebih parah kudengar dari Mila, ia jijik dengan orang seperti itu. Aku pun tersenyum lagi sambil mengelus-eluskan dada. 

Hari berikutnya, setelah hari sebelumnya berlalu, Mila datang lagi padaku. Kali ini tak kulihat lagi ekspresi kesalnya seperti yang lalu-lalu. Aku pun bertanya pada Mila, “Kenapa hari-hari sebelumnya kau tak seperti ini saja? Aku senang melihatnya.” Lagi, aku tersenyum pada Mila. Mila menjawabku sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena tertiup angin di jalan, “Benarkah? Kalau begitu akan selalu kulakukan. Oh, iya, aku bahagia karena wanita tua itu berhasil kusingkirkan. Kali ini dia pasti benar-benar tak akan lagi menggangguku atau mendekatiku. Wanita tua itu ingin sekali membantuku saat aku membawa kardus-kardus berat berisi barang-barang bekas. Aku sedang menjebaknya. Saat wanita tua itu membawakan kardus-kardusku, di jalan, ia terjatuh hingga tersungkur. Aku tentu saja tidak akan menyentuh wanita tua yang kotor itu. Lalu kupanggilkan orang untuk menolongnya. Sepertinya ia jadi pincang. Salahnya sendiri ngotot membantuku. Huh, syukurlah aku aman sekarang.” Mila panjang lebar menceritakan kejadian yang baru saja ia alami itu dan tertawa terbahak-bahak seolah menang setelah selesai menceritakan semuanya padaku. Lalu aku tersenyum kepada Mila. 

“Oh, iya, bagaimana keadaan ibumu? Aku kan belum pernah bertemu dengannya.” Pertanyaan Mila ini mungkin akan jadi pertanyaan terakhir sebelum aku pergi meninggalkannya. Aku pun menjawab dengan tersenyum dan menatap Mila, “Ibuku sedang terbujur lemas. Kakinya pincang. Ibuku bilang, ia terjatuh ketika membantu seorang perempuan yang sering ditemuinya. Meski sudah berkali-kali hatinya tersayat oleh perempuan itu, ia tetap ingin sekali melihatnya dari dekat. Dan ibuku bilang, perempuan itu cantik, putih, tinggi, harum, berkulit mulus, dan berpakaian mahal. Tapi, perempuan itu benar-benar telah melukai ibuku. Dia benar-benar telah melukai wanita yang paling kucintai. Semoga perempuan itu bukan jodohku. Kau tahu kan, ibuku adalah surgaku. Aku menyesal membiarkan ibuku sendirian di sana. Aku tidak tahu kalau ibuku benar-benar pergi.” Aku meninggalkan Mila yang sepertinya terkejut mendengar ceritaku. Tapi aku tak peduli lagi. Ada jadwal kuliah yang tak bisa kutinggalkan. 

Sebelum aku benar-benar meninggalkan Mila, aku berkata padanya, “Mila, maafkan aku. Tapi, wanita tua itu adalah ibuku.”
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar