Aku
menyipitkan mata sambil tersenyum kepada Mila yang tak henti-hentinya menceritakan
kebenciannya terhadap wanita tua di persimpangan jalan dekat rumahnya. Kata
Mila, setiap ia hendak pergi ke kampus, wanita tua itu selalu memandanginya
dari dekat. Bahkan kata Mila juga, wanita tua itu sempat mengelus-elus kepala
Mila. Sontak saja Mila menangkis tangan wanita tua itu hingga terjatuh. Lalu
Mila meninggalkannya dan pergi dengan ekspresi kesalnya yang selalu kuingat.
Hari
berikutnya, seperti biasa, perbincangan awal antara aku dan Mila adalah tentang
wanita tua yang kata Mila masih selalu memandanginya dari dekat. Selama aku
berpacaran dengan Mila, baru kali ini aku melihat ia begitu kesal. Meski ia
tampak menggemaskan saat itu, tapi ia membuatku angkat tangan. Aku pun
menanyakan kepada Mila tentang wanita tua yang membuatnya kesal itu. Kata Mila,
wanita tua itu bau, bajunya kumuh, matanya sayup, pipinya peyot, dan kulitnya
keriput. Yang paling kuingat, Mila pernah berkata padaku, waktu siang bolong, wanita
tua itu datang pada Mila bertelanjang kaki dengan maksud ingin meminjam sandal
jepit yang hendak Mila buang ke tempat sampah depan rumahnya. Tapi Mila justru
membuang sandal itu ke selokan penuh air hitam dan membiarkan telapak kaki wanita
tua itu melepuh karena panas. Yang lebih parah kudengar dari Mila, ia jijik
dengan orang seperti itu. Aku pun tersenyum lagi sambil mengelus-eluskan dada.
Hari
berikutnya, setelah hari sebelumnya berlalu, Mila datang lagi padaku. Kali ini
tak kulihat lagi ekspresi kesalnya seperti yang lalu-lalu. Aku pun bertanya
pada Mila, “Kenapa hari-hari sebelumnya kau tak seperti ini saja? Aku senang
melihatnya.” Lagi, aku tersenyum pada Mila. Mila menjawabku sambil merapikan
rambutnya yang sedikit berantakan karena tertiup angin di jalan, “Benarkah? Kalau
begitu akan selalu kulakukan. Oh, iya, aku bahagia karena wanita tua itu
berhasil kusingkirkan. Kali ini dia pasti benar-benar tak akan lagi
menggangguku atau mendekatiku. Wanita tua itu ingin sekali membantuku saat aku
membawa kardus-kardus berat berisi barang-barang bekas. Aku sedang menjebaknya.
Saat wanita tua itu membawakan kardus-kardusku, di jalan, ia terjatuh hingga
tersungkur. Aku tentu saja tidak akan menyentuh wanita tua yang kotor itu. Lalu
kupanggilkan orang untuk menolongnya. Sepertinya ia jadi pincang. Salahnya
sendiri ngotot membantuku. Huh, syukurlah aku aman sekarang.” Mila panjang
lebar menceritakan kejadian yang baru saja ia alami itu dan tertawa
terbahak-bahak seolah menang setelah selesai menceritakan semuanya padaku. Lalu
aku tersenyum kepada Mila.
“Oh,
iya, bagaimana keadaan ibumu? Aku kan belum pernah bertemu dengannya.” Pertanyaan
Mila ini mungkin akan jadi pertanyaan terakhir sebelum aku pergi
meninggalkannya. Aku pun menjawab dengan tersenyum dan menatap Mila, “Ibuku
sedang terbujur lemas. Kakinya pincang. Ibuku bilang, ia terjatuh ketika
membantu seorang perempuan yang sering ditemuinya. Meski sudah berkali-kali
hatinya tersayat oleh perempuan itu, ia tetap ingin sekali melihatnya dari
dekat. Dan ibuku bilang, perempuan itu cantik, putih, tinggi, harum, berkulit
mulus, dan berpakaian mahal. Tapi, perempuan itu benar-benar telah melukai
ibuku. Dia benar-benar telah melukai wanita yang paling kucintai. Semoga
perempuan itu bukan jodohku. Kau tahu kan, ibuku adalah surgaku. Aku menyesal membiarkan
ibuku sendirian di sana. Aku tidak tahu kalau ibuku benar-benar pergi.” Aku
meninggalkan Mila yang sepertinya terkejut mendengar ceritaku. Tapi aku tak
peduli lagi. Ada jadwal kuliah yang tak bisa kutinggalkan.
Sebelum
aku benar-benar meninggalkan Mila, aku berkata padanya, “Mila, maafkan aku. Tapi, wanita tua itu adalah ibuku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar