Suatu
pagi, aku bertemu Genta, sahabatku yang baru putus dengan kekasihnya beberapa
minggu lalu. Genta sangat payah jika ada
masalah dalam hubungan asmaranya. Dia menyudahi hubungannya dengan Dewi yang
sudah berjalan selama 2 tahun setelah ia tak lagi sanggup menahan gejolak api lara.
Dewi ternyata diam-diam dekat dengan pria lain. Dengan kata lain, ia selingkuh.
Sekarang Genta benar-benar terluka dan mulai melupakan perasaannya kepada Dewi.
Setelah Genta menyudahi hubungannya itu, ia dan Dewi benar-benar telah usai. Genta
bilang, tidak semua cinta yang tulus
mencintai orang yang tepat.
“Ta,
Tuhan gak selalu membuat kita jatuh cinta untuk bahagia. Mungkin Dia sedang
menguji kita.” Aku mencoba menenangkan Genta. “Tapi bukankah cinta itu soal
kebahagiaan? Di mana jika kita mencintai dengan tulus kita akan bahagia. Aku
sudah mencintainya dengan tulus. Tapi kenapa Dewi seperti itu padaku?” Genta
semakin meninggikan nada bicaranya. Membuatku sedikit menelan ludah. “Ta, sudah
kubilang tadi, Tuhan sedang mengujimu. Cinta tak selamanya soal bahagia. Ta,
cinta itu tak selalu tentang hal-hal yang indah. Dan tidak selamanya kita hidup
bahagia.” Aku duduk di atas kursi kayu sambil menyeduh coklat panasku. “Ternyata
cinta sepahit kopi hitam yang kuminum setiap pagi.” Genta duduk dan meminum
kopi hitamnya.
“Tapi,
Ta, asal kamu tahu, meski cinta yang tulus mencintai orang yang tidak tepat, ia
tetaplah cinta. Cinta tidak bisa berbohong. Tapi mulutmu bisa.” Aku menatap
kedua mata hitam Genta yang menatapku juga. “Mulutku berbicara yang sebenarnya.
Cinta hanyalah pedang yang akan menyayat kita. Pedang yang disimpan hingga tiba
saatnya ia melukai.” Genta tak lagi menatapku. Ia memandangi jendela yang sudah
rapuh di depannya. “Ta, cinta tak sepahit kopi hitammu. Kamu hanya tidak mau
merasakan manisnya minuman hangat yang lain. Selalu saja yang pahit kamu
rasakan.” Aku tetap menatap Genta. “Ya, karena setelah dikhianati Dewi, hidupku
sepahit kopi hitam ini. Tahu apa kamu tentang cinta? Kamu bahkan belum pernah
berpacaran dengan siapapun.” Kali ini ucapan Genta membuatku jengkel. “Aku
memang belum pernah berpacaran. Tapi kamu harus tahu, Ta. Pacaran itu hanyalah
sebuah status. Tidak semua orang yang berpacaran itu karena cinta.”
Genta
berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah jendela. “Ya terserahlah apa katamu
itu. Tuhan sedang menguji atau apalah. Sekarang aku sudah tak mencintai Dewi
lagi.” Genta mengatakannya dengan enteng. “Semudah itu kamu mengatakannya, Ta?”
Aku mulai meninggikan nada bicaraku. Genta langsung menatapku. “Ya, semudah aku
jatuh cinta pada Dewi. Pada pertemuan pertama kami. Dan kami langsung
berpacaran pada beberapa pertemuan berikutnya.”
Aku
pun berdiri dan mendekati Genta. “Ta, cinta bukan sesuatu yang mudah tercipta. Bukan
pula rasa yang hadir hanya karena mata melihat keindahan. Cinta membutuhkan
waktu untuk meyakinkan keberadaannya. Aku yakin Ta, mencintai itu sulit. Tapi
akhirnya kamu bisa hingga 2 tahun lamanya. Dan sekarang kamu bilang tidak
mencintainya lagi dengan saking mudahnya? Tentu saja aku tidak percaya.”
“Aku
memang benar-benar tidak mencintainya lagi.” Dan lagi, Genta mengatakannya
dengan enteng. Dia seperti lupa bagaimana dulu ia memperjuangkan cintanya.
Bagaimana ia berusaha begitu keras demi cinta. Genta benar-benar tak menghargai
apa yang telah ia usahakan dulu. Semua seolah lenyap dalam pikiran Genta.
Pandangannya seolah-olah kosong tanpa Dewi di sana.
“Tidak,
kamu tidak begitu. Aku tahu cinta tak akan pernah pergi. Dia hanya berada di
tempat yang sudah kau putuskan sebagai tempatnya. Yang pasti, dia selalu ada di
dalam hatimu. Meski kamu berkata tidak, cinta yang kamu pikir telah pergi
sebenarnya masih tinggal di bagian lain dari hatimu yang tak lagi kau lihat
sebagai cinta. Ta, kamu masih mencintai Dewi, dan kamu melepaskannya pergi.”
Ucapan terakhirku sebelum aku pergi meninggalkan Genta untuk menjalani
hari-hariku seperti biasanya. Aku keluar dari rumah kayu tempat aku dan Genta
bertemu. Aku meninggalkan Genta di sana sendirian bersama kata-kataku dan
kata-katanya yang masih terngiang-ngiang di kepalaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar