Minggu, 03 Agustus 2014

Jatuh Cinta Diam-diam


Aku berdiri di depan teman-temanku. Seolah-olah memamerkan tubuhku yang begitu memesona. Padahal sebenarnya, aku hanya ingin bersebelahan dengan dia. Setidaknya aku bisa melihatnya. Hidupku terasa lebih indah bila ada dia. Sepanjang hari aku memandanginya tanpa lelah. Tapi dia tak sedikitpun melihat ke arahku. Pandangannya tajam lurus ke depan. Sesuatu yang membuatku semakin tertarik kepadanya.

Sebenarnya aku ingin berbincang-bincang dengannya, tapi aku takut untuk memulai. Maka aku bersedia menunggu hingga dia memulai perbincangan. Ternyata waktu tak membiarkanku menunggu lama. Dia menoleh ke arahku, tersenyum, lalu menyapaku. Deg. Apakah ini mimpi? Tentu saja aku senang bukan main. Dan sejak saat itu kami mulai sering berbincang-bincang.

Hari berganti hari. Aku tak ingin berpisah dengan dia. Dan aku berharap agar dia tak meninggalkanku. Maka aku bergegas mundur dan berdiri di barisan paling belakang dari teman-temanku. Aku juga meminta dia untuk melakukan hal yang sama sepertiku. Tapi dia dan teman-temannya sama sekali tak membuat barisan. Mereka berdesak-desakkan bahkan sampai tak bisa bergerak sedikitpun. Mungkin karena yang mereka tempati begitu sempit. Dan itu membuatku semakin takut. Dia bisa saja meninggalkanku. Seseorang bisa mengambilnya karena ia berada di depan dan begitu tampan.

 
Hari-hari berikutnya setelah aku berada di barisan paling belakang, aku dan dia tak lagi saling berbincang. Dan benar saja, dia, bulpoin yang kucintai, pergi meninggalkanku. Kucintai? Iya, aku mulai jatuh hati sejak mengenalnya. Tapi kini seseorang telah membelinya. Dan aku benar-benar patah hati. Andai aku bisa berbicara, aku pasti akan meminta seseorang itu agar tidak membelinya. Tapi siapalah aku, aku hanyalah buku tulis keluaran terbaru yang sebentar lagi penuh debu karena aku tahu bahwa pemilik toko tak rajin membersihkan barang dagangannya. Dia keluar dari pintu dan dia benar-benar pergi.
Setelah kepergiannya, aku kehilangan semangat. Ditambah lagi, satu persatu teman-temanku juga pergi. Dan waktu itu pun datang, waktu di mana seseorang membeliku. Aku bersikap seperti sewajarnya barang dangangan. Bila ada seseorang yang membeli kami, kami merasa bahagia. Seseorang itu membawaku ke kamarnya. Meletakkanku di atas sebuah kayu dan meninggalkanku di kamarnya yang full music.

Mungkin aku akan dijadikannya buku tulis matematika atau fisika. Karena sepertinya tak ada yang pantas untuk ditulis padaku selain pelajaran-pelajaran yang memusingkan dan tidak menyenangkan itu. Pasti bulpoin yang digunakan untuk menulis tidak sehitam bulpoin yang kucintai. Entah dari mana pikiran-pikiran kotor itu datang, aku tak bisa mengendalikannya. Aku merindukannya.

Malam yang dingin pun tiba. Seseorang itu lupa tak menutup jendela kamarnya. Aku kedinginan di atas meja kayu. Sendiri tanpa bulpoin yang kuncitai. Lalu seseorang itu datang dan mulai menulis di atas kertasku. Bukan sebagai buku tulis matematika atau fisika, tapi sebuah buku harian. Dan yang tak kuduga lagi, seseorang itu mempertemukanku kembali dengan bulpoin yang kucintai. Cintaku pulang.

Aku tersenyum bahagia. Pesonanya tak lagi kulihat dalam imajinasiku. Aku benar-benar melihatnya langsung. Suatu momen yang tak akan terlupakan, lembaranku akan penuh oleh tinta hitamnya. Penuh dengan tulisan indahnya. Tapi sepertinya dia lupa padaku. Sebab dia sama sekali tak menoleh, tersenyum, bahkan menyapaku. Seperti saat pertama kali aku melihatnya, pandangannya tajam lurus ke depan. Itu membuatku sedih. Tapi setidaknya aku bisa melihatnya kembali.

Setiap hari seseorang itu menulis di atas kertas-kertasku dengan bulpoin yang kuncintai. Selesai menulis, seseorang itu meninggalku berdua dengan bulpoin yang kucintai itu di atas meja kayu dan membiarkan jendela kamarnya terbuka. Udara malam begitu dingin, ingin rasanya kupeluk dia agar tidak kedinginan, tapi aku tak bisa karena dia berada beberapa centimeter dariku. Untung saja hujan tak turun.

Hari berganti hari,  tulisannya semakin membuatku jatuh cinta. Dan selama itu aku dan dia sama sekali belum memulai percakapan setelah percakapan kami di toko yang sudah lama berlalu. Seseorang itu pun datang dan menulis lagi. Setelah selesai merangkai kalimat indah di atas kertas-kertasku, ia pergi tidur meninggalkanku yang masih terbuka dan meletakkan bulpoin yag kucintai di bawahku. Tak apalah, setidaknya dia aman di bawahku, dia akan merasa hangat. Tapi hujan turun tiba-tiba. Semakin lama semakin deras. Seseorang itu selalu saja lupa menutup jendelanya. Air hujan pun tanpa ampun membasahi sedikit demi sedikit badanku. Tapi tak apalah, setidaknya bulpoin yang kucintai tak basah. Dia aman. 

Keesokan harinya aku baru sadar, beberapa lembar kertasku robek karena air hujan semalam. Tinta-tinta yang membentuk tulisan indah itu luntur. Aku kembali sedih. Tapi tak apalah, bulpoin yag kucintai itu akan memberikanku tulisan indahnya lagi. Aku harus bahagia karena dia kini sudah kembali di dekatku. Begitulah aku menenangkan diriku sendiri. 

Bulpoin yang kucintai itu setiap hari menulis di kertasku. Dan setiap hari pula aku menjaganya dengan cinta yang belum dia ketahui, bahkan mungkin tak akan pernah. Karena setelah cukup lama aku bersamanya, lembaran kertasku yang kosong habis. Dengan tintanya yang masih banyak, dia tak mungkin berhenti menulis. Jika aku habis, maka pastilah dia akan menulis di kertas yang lain. Dan itu bukan dariku.

Setelah menyadari bahwa lembaran kertas kosongku telah habis, seseorang itu memasukkanku dalam kotak berdebu dan meletakkannya di atas lemari. Di situlah aku menghabiskan sisa-sisa hidupku. Lagi, sendirian. Tidak, aku bersama debu-debu dan kesepian. Tapi tetap saja, tanpa dia.


Hari pun berganti dengan cepat. Hingga aku tak lagi nyaman dipandang. Aku terlalu lama dilupakan. Seseorang itu terlalu lama lupa akan tulisan indah bulpoin yang kucintai. Aku rindu akan pesonanya. Aku rindu bulpoin hitam yang menggoreskan tintanya padaku hingga lembaranku habis. Aku merindukan waktu kami bersama. Tapi aku semakin tua dan usang.

Aku tak tahu sudah berapa lama aku di dalam kardus yang diletakkan di atas lemari. Tiba-tiba ada sepasang tangan membawa kardus ini dan meletakkannya di suatu tempat. Aku merasa asing dengan tempat itu. Bukan di atas lemari, tapi aku yakin tempat apa ini. Tempat peristirahatan terakhirku sebelum akhirnya ada yang membakar dan melupakan abuku. Ya, tempat pembuangan. Aku akan benar-benar pergi meninggalkan bulpoin yang kucintai tanpa memberitahunya betapa aku begitu mencintainya. Dia benar-benar tak akan pernah tahu. Setiap tulisannya membuatku jatuh hati. Meski pandangannya yang tajam selalu lurus ke depan. Tapi aku bahagia karena setiap lembaranku penuh dengan tulisan indahnya.

Di tempat pembuangan ini, ternyata aku tak sendirian. Ada sebuah bulpoin tua yang tintanya belum habis menatapku dengan tajam, tersenyum, dan menyapaku. Aku bahkan seperti mengenalnya. Ya, dia bulpoin yang pernah mengukir kisah bersamaku. Tapi mengapa ia berada di tempat ini? 

Bulpoin itu pun memulai perbincangan denganku seperti saat di toko. Ternyata setelah lembaran kosongku habis dan aku di masukkan ke dalam kardus, dia berhenti menulis. Berkali-kali seseorang itu mencoba menulis pada kertas lain, tapi bulpoin yang kucintai tak membiarkan sedikitpun tintanya menyentuh lembaran yang bukan aku. Hingga akhirnya seseorang itu membuang bulpoinnya ke tempat pembuangan, sebelum aku. Bulpoin hitam itu menungguku di sana bersama kesepian dan harapan-harapannya yang kini menjadi nyata. Kini kami menjadi pasangan yang takkan terpisahkan kecuali oleh Yang Maha Esa. Kami, ya sebuah buku tulis dan bulpoin hitam.

“Waktu menguji cinta yang tercipta. Bukan memisahkan. Dan kesalingpercayaan ini menguatkan kita, sehingga kita bertemu kembali dan menulis kisah yang baru di atas lembaran putih bersih.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar