Senin, 03 Februari 2014

Di mana Aku



Pagi itu hujan begitu deras mengguyur kotaku. Membasahi hari pengambilan raport semester 2. Sekolah begitu ramai siswa-siswi dan walinya. Namun aku merasa seperti sendirian, semua orang bergurau tak menyentuh hadirku sama sekali. Aku pun  memilih diam, menunggu waktuku tiba.
Mataku was-was akan sosok yang hidup di dalam benakku. Dia sedang berjalan dengan cemas namun penuh harap. Keringatnya mengucur deras. Aku tahu yang dia harapkan sama seperti apa yang kuharapkan untuknya. Sosok itu pun melewatiku begitu cepat dan mataku hanya melirik sejenak.
Tibalah saatku, membuka hasil jerih payahku dan kudapatkan hasil yang memuaskan. “Terima kasih Tuhan.” Aku tersenyum, mencoba meyakinkan hati bahwa hasil yang memuaskan ini bisa mengobati lukaku. Aku bahkan tak tahu apakah aku benar-benar tersenyum atau hanya sekadar mengikuti alur, entahlah.
Kembali lagi, aku duduk di atas kursi kayu. Kini sosoknya datang lagi. Aku tak tak tahu harus bersikap bagaimana. Apa yang dia harapkan ternyata tak sejalan dengan kenyatan hari ini. Aku hanya memandangnya dari jauh dan tersenyum menguatkan. Namun aku terabaikan.
Di mana aku saat ia terjatuh, menangis, terluka?
Aku ada di hatinya. Aku mengirimkan doa untuknya agar Tuhan selalu memeluknya, bersamanya.
Di mana aku saat dia sakit?
Aku memang belum pernah di sampingnya. Namun aku selalu di hatinya. Aku selalu berdoa untuknya.
Di mana aku saat ia membutuhkan pundak?
Aku ada di hidupnya. Meski ragaku jauh, Tuhan selalu mendekatkan kami dengan doa.
Di mana aku saat dia bersedih?
Aku selalu di sini. Diam. Memandang dari jauh. Berharap berada di sisinya. Namun aku selalu berdoa untuknya.
Pertanyaan-pertanyaan menyerbu perasaanku. Dan ia menghilang dari pandanganku, entah ke mana. Lalu kuberikan raportku pada ibuku, dan aku menyendirikan sosokku sementara waktu. 

[Bersambung]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar