Selasa, 18 Maret 2014

Cerita Kecil di Pulau Kecil

      
      Sengatan matahari membangunkanku yang tertidur dibibir pantai pulau tak bernama. Badanku penuh pasir dan mataku memerah. Kuputuskan berjalan mengikuti kata hatiku karena tak kuat lagi menahan rasa lapar. Sudah lebih dari 2 hari aku hanya minum air laut dan memakan sisa perbekalanku yang kini sudah habis.
      Aku berjalan tanpa alas kaki ke dalam hutan. Berharap akan ada sosok yang mau menolongku. Semakin ke dalam, semakin kulihat sisi gelap hutan. Namun, secercah cahaya membuatku yakin bahwa harapanku akan terkabul. Kudekati cahaya itu dan kudapati segerombolan anak tengah belajar membaca buku yang telah usang. Dan mereka semua menatapku dengan ketakutan. Namun aku mencoba meyakinkan mereka bahwa aku adalah orang baik.
      Tak perlu menunggu lama, akhirnya aku bisa meyakinkan mereka dan mereka pun mengantarkanku ke gubuk kecil tempat tinggal kepala dusun. Ternyata, yang kupikir adalah hutan bukanlah hutan yang kupikir sebelumnya. Itu adalah desa tempat tinggal puluhan keluarga yang tak pernah berjumpa dengan listrik dan barang elektronik lainnya. Kuberanikan diri bertanya kepada mereka nama pulau yang sedang kuinjak ini. Dan mereka menjawab "Pulau Krikil". Ya, pulau yang sekecil namanya. Aku bahkan tak pernah melihat pulau ini di peta mana pun.                                     
      Aku pun memutuskan untuk tinggal beberapa hari di pulau kecil ini sambil menunggu kapal datang menjemputku. Beberapa penduduk di sini telah mencarikanku bantuan dengan berlayar ke pulau seberang yang lebih luas dan terkenal. Namun, selama aku menunggu, aku tidak hanya diam saja atau sekadar menyapa warga. Aku membantu mengajar siswa SD disekitar tempat aku tinggal saat ini. Di situlah aku mendapatkan cerita baru yang menginspirasiku selama sisa hidupku menjadi seorang guru.
      Ternyata, anak-anak di pulau ini tak kalah semangat belajarnya dengan anak-anak di kota besar tempatku mengajar. Mereka begitu antusias setiap kali aku memulai pembahasan. Kegembiraan, keingintahuan, dan kebersamaan bersama mereka inilah yang membuatku jatuh cinta pada mereka. Rasanya aku ingin terus mengajar mereka.
      Tapi, waktu tak memberiku kesempatan lagi. Inilah saatnya aku harus pergi untuk kembali. Salam perpisahan yang menyakitkan ini kuakhiri dengan melangkahkan kaki menuju bibir pantai tempat kapal yang akan membawaku pulang menepi. "Selamat tinggal anak-anak, semoga impian kalian terwujud. Semangat belajar dan jangan putus asa." Sesekali aku menengok ke belakang dan kulihat anak-anak itu masih mengikutiku. "Ke mana pun aku pergi, ada murid-muridku yang mengikutiku."
      Kapal yang kutumpangi mulai menjauhi pulau kecil tempat aku mendapatkan cerita baru. Jauh, semakin jauh, hingga yang kulihat hanya lautan biru. Tak kulihat lagi pulau kecil itu. Tak kan kulihat pulau pulau kecil itu di peta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar