Malam terasa kelam dan sunyi kala hujan telah berhenti. Dingin merayap
menatap meratap pada tubuh yang terbaring lemah. Meski berulang-kali mencoba
bangkit, sakit masih kuat menancap dalam jiwa raga.
Perihnya hidup membuat langkah mudah terombang-ambing. Apalagi bila jiwa
raga telah berkarat. Entah alur siapa yang benar. Pikiran seolah pergi jauh
sementara aku hidup di sini sekarang. Bahkan meskipun tersadar, perasaan dipaksa
dibawa entah ke mana.
Menjerit sendiri karena luka dirasakan oleh diri sendiri. Tak pantas lagi
mengaku bahwa aku telah mengerti. Karena kenyataannya yang selalu ada selalu
orang lain, bukan aku. Bungkamlah sudah mulut kala mata terbelalak melihat hidup
yang ternyata tak pernah sesuai dengan apa yang telah diatur sendiri.
Kesenduan ini mengapa terasa seolah-olah begitu memilukan. Bagaimana jika
orang yang membaca ini menyimpulkan sendiri bahwa aku begitu menyedihkan. Tapi
masih sama, masih saja, aku tak peduli..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar