Selasa, 11 Juni 2013

Aku dalam Masa Remaja 1

 Namaku Pita. Bagaimana aku lahir, siapa keluargaku, dan bagaimana kehidupanku sebelumnya akan kubahas nanti. Sekarang, aku ingin membahas tentang masa remajaku. Ya, kini aku telah menginjak umur 17th dan saatnya aku sadar bahwa aku (seharusnya) telah dewasa.
Akan kuceritakan bagaimana aku mulai sadar bahwa aku telah menginjak masa remaja. Peralihan dari masa kanak-kanak ke masa remaja bak musim pancaroba. Itu hanya perumpamaan dariku. Lebih baik jika ceritaku diawali dengan masa SMA.
Aku baru kelas 10 di sekolah menengah atas yang cukup populer di kotaku. Dan di sekolah inilah aku berjumpa dengan sosok masa lalu yang sampai saat ini masih menetap dalam rasaku. Di sekolah ini juga aku berjumpa dengan seseorang yang akhirnya sanggup mengobati lukaku meskipun akhirnya dia terluka olehku. Semua adalah sebuah perjalanan. Hidup ini hanyalah perjalanan.
Sungguh, aku tak pernah berniat untuk melukai. Sekarang aku dihadapkan oleh pilihan yang harus kupilih. Aku sudah dewasa (seharusnya). Aku harus memilih mana yang terbaik. Namun tetap saja, kebimbangan datang menghampiri. Aku terjebak dengan perasaan yang bergejolak tak menentu. Hatiku bercabang. Aku mencintai dua laki-laki yang harus kupilih salah satu. Sedikit lebay dan dramatis memang, tapi inilah kisahku. Aku pun tak ingin mengakhiri dengan menyakiti. Sungguh aku tak pernah mengerti apa itu cinta. Yang kutahu tentang cinta......
CINTA ITU APA ADANYA, dia tak peduli dengan latar belakangmu atau siapapun kamu..
CINTA ITU TAK BERSYARAT, dia tak peduli apasaja yang ada pada dirimu..
CINTA ITU BUTA, tak peduli apakah kamu anak presiden ataupun mantan dari sahabat...
CINTA ITU TENTANG SALING MEMAHAMI, yaa kamu dan aku memahami satu sama lain..
CINTA ITU TENTANG SALING MENGERTI
CINTA ITU TENTANG SALING BERBAGI
Kadang aku benci dengan kata 'Cinta'. Selalau saja menjadi alasanku bersedih. Cinta pandai mengambil peran penting dalam hidupku. Aku sempat muak dengannya. Tapi inilah masalah yang selalu hadir dalam kehidupan. Aku tak boleh bersikap egois. Aku dan dia juga mempunyai keidupannya sendiri. Kami seharusnya saling memahami. Adakalanya aku lelah dengan hal-hal ini. Tapi inilah kenyataan yang tak bisa kuhindari. Aku bukanlah perempuan yang mudah menerima perasaan lelaki. Sebagai perempuan, aku punya kehormatan yang harus kujaga. Sebagai makhluk yang peka, aku mengerti bagaimana perasaan seseorang jika dirinya ditolak atau direspon tidak sesuai dengan keinginannya oleh perempuan. Tapi sebagai perempuan, aku tak mudah menyukai sesorang.

[Cerita ini bersambung. Akan kulanjut nanti malam ataupun besok. Jadi, jangan mengambil kesimpulan terlebih dahulu. Anda harus membacanya hingga TAMAT. Terima kasih.]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar