Aku hanya terdiam, bukan membisu. Aku merasa tenang saat diam. Karena
diam tidak melelahkan. Dan akhirnya aku terbelenggu dalam diam. Terjerat
perasaan yang membuatku dilema. Akhirnya meski telah kucoba untuk menolak, rasa
itu mengalir seiring bertambahnya usiaku.
Seperti biasanya, aku kembali
menyapa kenangan itu. Dingin memang, tapi pada akhinya mampu membuatku merasa
bahagia. Setidaknya lukaku sedikit terobati. Aku ingat betul senyumannya dan
bagaimana ia mengajakku tertawa. Bagaimana ia membantuku bangun saat aku
terjatuh. Bagaimana ia menenangkanku kala gelas impianku pecah oleh
kegagalanku. Saat itulah, semua tak lagi terasa sama. Dia orang berbeda yang
membuatku dilema.
namamu pena abadi, pake tinta apa biar bisa abadi?
BalasHapus